Jakarta, Harian Umum - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa Gunung Anak Krakatau di Selat Sundah menunjukkan gejala peningkatan aktivitas.
Gejala peningkatan aktivitas Aktivitas Gunungapi Anak Krakatau tanggal 27 Juni 2026," kata Badan Geologi melalui akun X-nya, @badangeologi_.
Namun, status gunung itu belum ditingkatkan, tetap ada level II.
"Gunungapi Anak Krakatau tetap berada pada Level II (Waspada)," katanya.
Dalam.siaran tertulisnya, Badan Geologi menjelaskan, meski Gunung Anak Krakatau secara administrasi masuk dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, akan pengamatan terhadap gunung ini dilakukan melalui 2 pos pengamatan gunungapi, yaitu Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, dan Pos Pengamatan Gunungapi Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten.
Menurut catatan sejarah, pada tahun 1883 Gunung Krakatau meletus dengan sangat dahsyat. Letusan itu bukan hanya menghasilkan tsunami, melainkan juga gempa bumi yang memicu erupsi Anak Krakatau.
Pada 22 Desember 2018, longsoran sebagian tubuh Anak Krakatau memicu tsunami di kawasan Selat Sunda.
Setelah peristiwa itu, seri erupsi berskala rendah terus berlangsung sebagai fase konstruksi pertumbuhan kembali Gunungapi Anak Krakatau hingga 16 Desember 2023. Jeda erupsi masih berlangsung hingga saat ini.
Namun demikian, Gunungapi Anak Krakatau terus memperlihatkan aktivitas magmatik berenergi rendah.
"Sejak 1 Juni 2026, Satelit Sentinel memperlihatkan adanya emisi gas SO2 dan anomali panas, serta pemunculan titik api di kawah sejak 10 Juni 2026," kata Badan Geologi.
Gejala ini disertai dengan pemunculan asap dari kawah dengan intensitas cukup tinggi, dan peningkatan jumlah gempa yang berasosiasi dengan gempa dangkal (Hembusan, Hybrid/Fase Banyak, dan Low Frequency) secara signifikan.
Pada 18 dan 19 Juni 2026, jumlah gempa Hembusan, Hybrid/Fase Banyak, dan Low Frequency meningkat drastis dengan rerata kejadian lebih dari 50 kali perhari.
"Meskipun tidak disertai dengan peningkatan gempa-gempa dalam (Vulkanik A dan Vulkanik B) dan deformasi, peningkatan gempa yang berasosiasi dengan gempa dangkal mengindikasikan adanya dinamika magma Gunungapi Anak Krakatau di bagian permukaan," sambung Badan Geologi.
Sejak 26 Juni 2026, intensitas Gempa Hembusan semakin meningkat disertai dengan peningkatan intensitas asap kawah, berwarna kelabu dengan muatan abu vulkanik tipis mengarah ke barat barat laut. Asap ini terdeteksi satelit yang dioperasikan oleh Volcanic Ash Advisory Centres (VAAC) Darwin, Australia.
"Gejala peningkatan magmatisme di permukaan tersebut bisa menjadi awal peningkatan aktivitas Gunungapi Anak Krakatau menuju erupsi. Jika terjadi erupsi maka potensi ancaman bahaya berasal dari awan panas, lava, lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat," jelas Badan Geologi.
Meski demikian, hingga saat ini peningkatan aktivitas magmatis di permukaan ini belum diikuti oleh perubahan tingkat aktivitas, sehingga Gunungapi Anak Krakatau tetap berada pada Level II (Waspada).
Rekomendasi teknis
Atas peningkatan aktivitas Gunung anak Krakatau tersebut, Badan Geologi memberikan rekomendasi sebagai berikut;
1. Masyarakat di sekitar G. Anak Krakatau dan pengunjung/wisatawan/pendaki tidak diperbolehkan memasuki dan melakukan kegiatan di dalam wilayah radius 2 km dari pusat aktivitas G. Anak Krakatau dan meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bahaya awan panas, lava, dan lontaran batu pijar, serta hujan abu lebat.
2. Masyarakat di wilayah pantai Provinsi Banten dan Lampung harap tenang dan jangan mempercayai isu-isu tentang erupsi Gunungapi Anak Krakatau yang akan menyebabkan tsunami, serta dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat.
3. Untuk mengetahui informasi dapat menghubungi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi (022) 7272606 di Bandung (Provinsi Jawa Barat) atau Pos Pengamatan G. Krakatau (0254) 651449 atau 085846324506 di Pasauran (Provinsi Banten).
4. Masyarakat, pemerintah daerah, dan instansi terkait dapat memantau perkembangan aktivitas dan rekomendasi Gunungapi Anak Krakatau melalui aplikasi/website Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (www.vsi.esdm.go.id), Magma Indonesia. (rhm)







