Jakarta, Harian Umum - Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan, gempa megathrust di Indonesia tinggal menunggu waktu.
Hal itu ia dikatakan ketika menyinggung soal kekhawatiran ilmuwan Indonesia tentang seismic gap Megathrust Selat Sunda dan Megathrust Mentawai - Siberut.
Seismic gap adalah wilayah di sepanjang batas lempeng aktif yang tidak mengalami gempa besar atau gempa selama lebih dari 30 tahun.
BMKG memperkirakan, Megathrust Selat Sunda bisa memicu gempa dahsyat dengan magnitudo hingga 8,7 dan Megathrust Mentawai-Siberut hingga Magnitudo 8,9.
“Rilis gempa di kedua segmen megathrust ini boleh dikata 'tinggal menunggu waktu' karena kedua wilayah tersebut sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar,” kata Daryono melalui akun X-nya, @DaryonoBMKG, seperti dikutip Senin (12/8/2024).
Sebelumnya, pada 18 Januari 2022, kepada kompas.com Widjo Kongko, perekayasa di Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengatakan bahwa Megathrust Selat Sunda memang berpotensi menyebabkan gempa besar bermagnitudo 8,7, tetapi tidak menutup kemungkinan kekuatan gempa di wilayah tersebut mencapai magnitudo 9 atau lebih.
Hal tersebut bisa terjadi apabila terjadinya gempa akibat Megathrust Selat Sunda bersamaan dengan segmentasi yang berada di atasnya, yaitu Megathrust Enggano di Bengkulu dan sebelah timurnya, yaitu Megathrust Jawa Barat-Tengah.
“Energi yang dihasilkan dari potensi gempa itu mirip dengan gempa bumi dan tsunami Aceh 2004,” katanya.
Ia menambahkan, ada kemungkinan gempa akibat Megathrust Selat Sunda memicu tsunami yang lebih tinggi ketika gempa berkekuatan M 9,3 melanda Aceh pada 2004.
Selain itu, Megathrust Mentawai-Siberut yang berpotensi memicu gempa besar di masa yang akan datang, pernah menimbulkan beberapa bencana sejak 1994. Megathrust di wilayah Sumatera tersebut pernah menyebabkan gempa M 8,5 di Nias pada 1994, M 7,9 di Lampung-Bengkulu pada 2000, M 9,3 di Aceh pada 2004, dan M 8,7 di Bengkulu.
Megathrust Mentawai-Siberut juga pernah menyebabkan gempa berkekuatan M 7,3 di Kepulauan Mentawai pada Selasa 25 April 2023 pukul 03.00 WIB. Pada saat itu, Daryono mengatakan, gempa di wilayah tersebut merupakan rangkaian gempa yang telah diprediksi para ilmuwan.
“Karena memang hanya di segmen (zona megathrust segmen Mentawai-Siberut) ini yang energi (gempa bumi) terkonsentrasi dan belum release (muncul) di bagian Sumatera," jelas Daryono
Ia mengakui kalau gempa pada tanggal 25 April 2023 pukul 03.00 WIB merupakan bagian dari rangkaian gempa zona megathrust di Segmen Mentawai-Siberut.
Gempa paling besar yang yang dipicu oleh Megathrust Mentawai-Siberut terjadi pada 10 Februari 1797 dengan magnitudo 8,5 dan menimbulkan tsunami besar sehingga lebih dari 300 orang meninggal.
“Artinya, sudah lebih dari 300 tahun di zona ini tidak terjadi gempa besar sehingga wajar jika para ahli menjadikan zona ini sebagai the big one yang mana menjadi perhatian para ahli,” kata Daryono. (man)


