Jakarta, Harian Umum - Serangan militer Amerika Serikat (AS) ke kota pelabuhan Bandar Abbas di selatan Iran ditengarai dipicu pengusiran kapal tanker AS yang mencoba melintasi Selat Hormuz.
"Seorang sumber di lingkungan militer mengatakan bahwa sebuah kapal tanker minyak Amerika diduga mencoba melewati Selat Hormuz dengan sistem radarnya dimatikan," kata kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, Kamis (28/5/2026).
"Penyusupan" itu langsung direspon Angkatan Laut IRGC dengan cepat dengan melepaskan tembakan peringatan ke arah kapal tersebut, memaksanya untuk berhenti dan berbalik.
"Kapal itu "kabur" dari Selat Hormuz," kata sumber tersebut.
Dugaan bahwa pengusiran itu terkait dengan serangan AS ke Bandar Abbas muncul karena tak lama setelah itu atau Kamis (28/5/2026) sekitar pukul 01.30 waktu setempat atau pukul 22.00 GMT, terjadi ledakan di dekat Bandar Abbas, di daerah yang oleh si sumber digambarkan sebagai "daerah hangus" di luar kota.
"Serangan AS tersebut tidak menyebabkan korban jiwa atau kerusakan material," kata akun X @SputnikInt.
IRGC membalas serangan itu dengan merudal pangkalan udara AS di Kuwait pada pukul 04.50 waktu setempat.
Iran Ancam Tingkatkan Level Pembalasan
Fars News melaporkan, Wakil Humas Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ali Naderi, mengingatkan AS bahwa pihaknya akan menaikan level pembalasan ke tingkat yang lebih kuat.
"Setiap serangan militer baru terhadap Iran akan memicu respons yang berbeda dan lebih kuat, tidak seperti apa pun yang pernah mereka lihat sebelumnya,” kata Naderi dalam sebuah wawancara, Rabu (27/5/2026), hanya beberapa jam sebelum AS menyerang Bandar Abbas, setelah serangan pertama ke tempat yang sama pada Senin (25/5/2027) malam.
“Jika musuh sekali lagi menggunakan aksi militer, metode konfrontasi Republik Islam akan berbeda dari apa yang telah mereka saksikan sejauh ini, dan mereka akan menghadapi wajah dan citra baru kekuatan tempur Iran di medan perang,” imbuhnya.
Ia mengingatkan bahwa Iran telah menjadi jauh lebih kuat dan lebih siap, baik dalam domain ofensif maupun defensif, dibandingkan di masa lalu, karena Iran mengambil pelajaran dari perang kedua dan ketiga yang dipaksakan oleh AS dan Israel, sehingga telah menemukan cara untuk melawan ancaman kedua "musuh bebuyutannya" itu.
“Jari-jari kami berada di pelatuk,” tegas pejabat militer itu.
Ia membeberkan bahwa metode pertempuran, perlindungan sistem, dan pengamanan personel Angkatan Udara Iran telah sepenuhnya berbeda dibandingkan dengan perang paksa kedua. Statistik pun mengkonfirmasi hal ini.
"Selama perang paksa ketiga, jumlah personel militer yang gugur di pusat-pusat militer menurun tajam, dan musuh tidak dapat menimbulkan kerusakan serius pada pasukan operasional. Selain itu, selama perang paksa ketiga, sebagian dari senjata dan amunisi canggih musuh jatuh ke tangan Iran," jelas Naderi.
Ia mengakui, dengan keahlian, pengetahuan, dan kemampuan tinggi dari pasukan domestik, Republik Islam telah mencapai tahap di mana Iran memiliki kendali penuh atas seluruh siklus produksi senjata di dalam negeri, sehingga Iran dapat mengandalkan persenjataan buatannya sendiri yang lahir dari kreativitas, kecerdasan, bakat, dan pengorbanan pemuda Iran.
"Itu yang telah memaksa negara adidaya global (AS, red) untuk mundur (pada perang saat ini yang terjeda karena AS meminta negosiasi untuk mengakhiri perang," katanya.
Senjata dan peralatan yang direbut dari musuh akan digunakan.
Ditanya tentang rekayasa balik senjata canggih musuh, Naderi mengatakan Iran telah melampaui tahap itu.
“Saat ini, negara-negara tertentu sedang melakukan rekayasa balik sistem dan senjata Iran,” tambahnya.
Naderi menyatakan bahwa Republik Islam telah memproduksi semua senjatanya secara mandiri, dan sebagian besar senjata ini tetap tidak tersentuh.
“Sama seperti penilaian musuh terhadap kekuatan rudal dan drone Iran yang salah, evaluasi mereka terhadap pelemahan kemampuan ini juga salah,” lanjutnya,
“Kami berharap kondisi tidak muncul yang memaksa Republik Islam untuk sekali lagi membuktikan perhitungan yang salah ini kepada musuh di medan perang," imbuhnya.
Naderi bahkan mengakui bahwa jalur produksi rudal dan drone Iran saat ini beroperasi dengan kapasitas yang lebih tinggi daripada sebelumnya, sehingga salah satu tujuan utama AS dan Israel dalam perang kedua dan ketiga yang dipaksakan, yaitu untuk mengganggu jalur produksi rudal dan drone Iran, tidak pernah tercapai.
“Republik Islam tidak memiliki batasan pada kualitas, jenis, atau kuantitas senjatanya, dan selalu menunjukkan kekuatannya di medan perang, sebuah fakta yang juga dipahami dan dialami oleh musuh,” pungkas Naderi. (man)







