Teheran, Harian Umum - Amerika Serikat (AS) pada Kamis (28/5/2026) waktu Asia Barat kembali menyerang Iran selatan setelah serangan yang dilakukan pada hari Senin (25/5/2026) malam.
"Serangan itu dilakukan setelah Presiden Donald Trump mengancam akan "menyelesaikan pekerjaan" jika Teheran tidak menyetujui kesepakatan perdamaian," kata Al Arabiya mengutip AFP.
Media Iran melaporkan, tiga ledakan keras terdengar di kota pelabuhan Bandar Abbas pada Kamis (28/5/2026) dini hari. Serangan ini mengingatkan tentang rapuhnya rapuh upaya diplomatik yang dilakukan AS dengan berkali-kali mengajukan proposal penghentian perang kepada Iran melalui Pakistan sebagai mediator.
Bahkan serangan hari Minggu terjadi di tengah perundingan yang sedang berlangsung di Doha, Qatar.
“Hari ini Pasukan Komando Pusat AS menembak jatuh empat drone serang satu arah Iran yang menimbulkan ancaman di sekitar Selat Hormuz,” kata seorang pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, dalam sebuah pernyataan kepada AFP.
“Pasukan AS juga menyerang stasiun kendali darat Iran di Bandar Abbas yang akan meluncurkan drone kelima,” kata pejabat itu lagi.
Setelah serangan pada Senin malam, Iran mengatakan pada hari Rabu bahwa berlanjutnya perang tidak mungkin terjadi, tetapi militernya tetap "bersiap siaga".
Sinyal-sinyal yang beragam telah menimbulkan pertanyaan mengenai pembicaraan yang bertujuan untuk secara resmi mengakhiri perang yang dimulai pada 28 Februari, yang dimulai dengan serangan AS dan Israel ke Iran.
“Iran sangat bertekad; mereka sangat ingin membuat kesepakatan. Sejauh ini, mereka belum sampai di sana. Kami tidak puas dengan itu, tetapi kami akan puas,” kata Trump dalam rapat kabinet Gedung Putih yang disiarkan televisi pada hari Rabu.
“Entah itu atau kita harus menyelesaikan pekerjaan ini," imbuhnya.
Reaksi keras Iran
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengutuk keras agresi militer AS itu yang terjadi pada Kamis (28/5/2026) dini hari.
'Ia mencatat bahwa tindakan agresif terhadap integritas teritorial dan kedaulatan nasional Iran ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional dan Piagam PBB," kata akun X @IraninJapan mengutip pernyataan Baqaei.
Baqaei menambahkan, Dewan Keamanan PBB berkewajiban untuk memenuhi tanggung jawab hukumnya untuk meminta pertanggungjawaban para agresor Amerika.
Ia menunjuk pada pelanggaran berkelanjutan AS terhadap gencatan senjata 8 April —khususnya pelecehan terhadap pelayaran komersial di wilayah Teluk Persia dan perairan internasional, serta serangan udara ke wilayah selatan Iran selama beberapa hari terakhir.
"Baqaei menegaskan kembali tekad Iran untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan integritas teritorialnya sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB," pungkas @IraninJapan. (man)







