Jakarta, Harian Umum - Amerika Serikat,(AS) agaknya belum lelah untuk memangkan perang dengan Iran melalui meja perundingan.
Setelah menolak proposal tanggapan Iran atas proposal yang disampaikannya melalui Pakistan sebagai mediator, Presiden AS Donald Trump mengajukan proposal baru.
"Iran sedang meninjau proposal baru AS yang disampaikan melalui mediasi Pakistan setelah Teheran mengajukan draf 14 poinnya (dan ditolak AS) pada awal pekan ini," kata Kantor Berita Tasnim mengutip seorang sumber dikutip Kamis (21/5/2026).
Sumber tersebut mengatakan, para pejabat Iran saat ini masih mempelajari proposal AS yang merupakan revisi dari proposal yang sebelumnya itu.
Tasnim juga mengabarkan bahwa saat ini mediator Pakistan masih berada di Teheran untuk berupaya mempersempit perbedaan keinginan AS dan Iran untuk bisa mencapai kesepakatan.
"Namun, sejauh ini belum ada hasil akhir dari upaya itu," kata Tasnim lagi, mengutip sumber tersebut.
Seperti diketahui, dalam proposalnya, AS ingin melucuti program nuklir dan ingin tak ingin Selat Hormuz berada di bawah kendali dan kontrol Iran, sementara Iran sebaliknya; ingin mempertahankan program nuklirnya dan tetap ingin Selat Hormuz tetapi berada di bawah dan kontrolnya. Iran juga menolak menyerahkan uranium yang telah diperkaya kepada AS, dan menolak menghancurkan tiga fasilitas nuklirnya, termasuk yang berada di Nantanz, sebagaimana keinginan AS.
Selain itu, Iran menuntut agar aset-asetnya yang dibekukan, dibuka kembali, dan sanksi ekonomi serta sanksi militer yang telah bertahun-tahun dikenakan kepada Iran, dicabut.
Al Arabiya melaporkan, Presiden AS Donald Trump pada Rabu (20/5/2026), mengatakan bahwa negosiasi dengan Iran berada "pada tahap akhir".
Namun, Trump juga memperingatkan bahwa jika Teheran tidak menyetujui proposal perdamainnya, akan adanya serangan lebih lanjut dari AS ke Iran.
Sebelumnya, Trump telah mengancam akan menyerang Iran karena memberi jawaban atas proposalnya dengan jawaban yang ia tolak mentah-mentah. Namun, ancaman itu dibatalkan dengan dalih atas permintaan negara-negara sekutu AS di Teluk, seperti Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar dan Arab Saudi.
“Kita berada di tahap akhir negosiasi dengan Iran. Kita akan lihat apa yang terjadi. Entah ada kesepakatan atau kita akan melakukan beberapa hal yang sedikit kejam, tetapi mudah-mudahan itu tidak akan terjadi,” kata Trump dikutip dari Al Arabiya, Kamis (21/5/2026).
“Idealnya, saya ingin melihat sedikit orang yang terbunuh, bukan banyak. Kita bisa melakukannya dengan cara apa pun," sambung Trump.
Sebelumnya, Iran telah mengatakan bahwa pihaknya tidak akan tunduk pada tekanan dan intimidasi Trump. Teheran bahkan mengancam, jika AS kembali menyerang negaranya, pihaknya bukan hanya telah siap "menyambut", tapi juga akan membuat perang itu melebar menjadi perang regional, karena Teheran telah tahu bahwa UEA dan Arab Saudi diam-diam telah menyerang Iran, dan mereka, juga sekutu AS yang lain di Timur Tengah, seperti Kuwait dan Qakat, mengizinkan wilayahnya digunakan AS untuk menyerang Iran.
“Jika agresi terhadap Iran diulangi, perang regional yang dijanjikan, kali ini perang akan meluas ke luar kawasan ini,” kata Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam sebuah pernyataan.
Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, negosiator perdamaian utama Iran, mengatakan dalam pesan audio di media sosial bahwa “langkah-langkah yang jelas dan tersembunyi oleh musuh” menunjukkan bahwa Amerika sedang mempersiapkan serangan baru.
Kecurigaan atas Kinerja Amerika
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan AS harus mengakhiri "pembajakan" terhadap kapal-kapal Iran, merujuk pada blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran sejak negosiasi yang gagal pada 11-12 April 2026.
“Meskipun rekam jejak pihak lain negatif selama satu setengah tahun terakhir, Iran tetap menempuh jalur negosiasi dengan serius dan itikad baik, tetapi memiliki kecurigaan yang kuat dan beralasan atas kinerja Amerika,” kata Baghaei. (man)







