Jakarta, Harian Umum - Lempeng tektonik di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) agaknya masih terus aktif, sehingga memicu gempa-gempa berskala kecil m, akan tetapi guncangannya dapat dirasakan masyarakat setempat.
Mengutip data laman X BMKG, dari Rabu (19/8/2026) pukul 00:00 hingga pukul 09:00 WIB, NTT diguncang sekitar 201 gempa susulan pasca gempa bermagnitudo 7,7 pada sabtu (15/8/2026) pagi.
Ratusan gempa susulan tersebut bermagnitudo di bawah 5, dan yang terbesar bermagnitudo 4,9.
Gempa pertama terjadi pukul 00:04 WIB dengan magnitido 2,1. Gempa ini berpusat di 7.88 LS - 120.41 BT dari kedalaman 18 kilometer . Episentrum tersebut berada 81 kilometer di Baratvm Laut Ruteng, Manggarai, NTT.
Gempa yang terjadi pada pukul 09:00 bermagnitudo 3,7 dengan episentrum di 7.81 LS - 120.94 BT dari kedalaman 10 kilometer . Episentrum itu berada 103 kilometer Timur Laut Ruteng.
Gempa dengan magnitudo 4,9 antara lain terjadi pada pukul 02:03 WIB dan merupakan gempa susulan ke-60 pada hari ini. Episentrum gempa tersebut berada di 8.26 LS - 121.34 BT dari kedalaman 6 kilometer. Episentrum gempa ini berada 46 kilometer di Timur Laut Mbay, Nagekeo, NTT.
Dari sekitar 201 gempa yang terjadi, lebih dari 20 bermagnitudo di atas 4, tetapi di bawah 5, seperti gempa dengan magnitudo 4,8 yang terjadi pada pukul 02:03 WIB, pukul 03:50 WIB, dan pukul 07:11 WIB; gempa dengan magnitudo 4,7 yang antara lain terjadi pukul 03:28 WIB dan pukul 03:50 WIB; dan gempa dengan nagnitudo yang di antaranya terjadi pada pukul 03:08 WIB.
Gempa dengan magnitudo 4,0 - 4,9 bisa memicu menyebabkan ringan pada bangunan
Pakar Gempabumi Daryono Perwira Sakti melalui akun X-nya mengungkap, hingga hari ini, Rabu (19/8/2026) pukul 05:00 WIB, total gempa susulan pasca gempa utama dengan magnitudo 7,7 yang berpusat di Flores, Sabtu (15/8/2026), telah terjadi gempa susulan sebanyak 2.768.
"Magnitudo terbesar 6,2. Magnitudo terkecil: 1,1. Magnitudo di atas 5: 24. Gempa susulan dirasakan: 81," katanya.
Gempa NTT M7,7 dipicu pergerakan Flores Thrust atau Flores Back-Arc Thrust, yaitu struktur patahan (sesar) naik aktif berarah timur–barat yang membentang di bawah laut, tepat di sebelah utara Kepulauan Nusa Tenggara, mulai dari Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, hingga Wetar.
Pasca gempa itu, akun @Updatesofwworld melaporkan adanya fenomena aneh di Danau Sano Nggoang di Manggarai Barat, NTT, berupa munculnya material gelap di danau tersebut.
"Penampakan material gelap terlihat di Danau Sano Nggoang, Manggarai Barat, Indonesia, setelah gempa bumi berkekuatan M7.7. Fenomena ini, yang secara lokal dikenal sebagai “Ta’i Sano,” telah dilaporkan. Pihak berwenang belum mengkonfirmasi apakah gempa bumi tersebut secara langsung menyebabkan munculnya material gelap tersebut," kata akun itu dikutip Rabu (19/8/2026).
Daryono menduga, gempa yang sangat kuat itu memicu likuifaksi atau pembentukan sand/mud volcanoes di dasar danau Sano Nggoang.
"Dugaan saya: guncangan gempa kuat memicu proses likuifaksi atau pembentukan sand/mud volcanoes di dasar danau. Sedimen anoksik (kaya bahan organik terdekomposisi) di bawah dasar danau yang tadinya terperangkap terdorong naik ke permukaan melalui retakan dan terdampar di pantai. Lumpur dasar perairan ini biasanya berwarna hitam pekat dan berbau menyengat," katanya. (rhm)






