Jakarta, Harian Umum - Kurs rupiah terus melemah terhadap dolar AS, bahkan tembus Rp 17.500/dolar AS pada perdagangan Selasa (12/5/2026).
Rupiah dibuka pada posisi Rp 17.498/dolar AS dan terus bergerak di zona merah.
Pada pukul 11.50 WIB, rupiah terpantau di Rp17.500/dolar AS, dan pada pukul 12.27 WIB menurut data Bloomberg, rupiah telah berada di Rp 17.512/dolar AS, karena terkoreksi tajam 98 poin atau 0,56%.
Pengamat mata uang dan komoditas yang juga Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuabi, mengatakan bahwa pergerakan kurs dipengaruhi faktor eksternal dan domestik.
Dari faktor eksternal, rupiah melemah signifikan dipengaruhi konflik Timur Tengah yang kembali memanas, khususnya setelah Amerika Serikat menolak proposal perdamaian yang dibuat oleh Iran yang dimediasi Pakistan dan Qatar.
“Penolakan ini membuat ketegangan baru, karena secara tak terduga serangan-serangan kecil masih terjadi di Selat Hormuz,” kata Ibrahim melalui keterangannya, Selasa (12/5/2026), dikutip dari Tempo.
Artinya, lanjut dia, Selat Hormuz masih memanas, meski muncul pernyataan dari para pejabat tinggi negara yang berkonflik bahwa perang telah usai.
Secara terpisah, Uni Emirat Arab juga menyerang kilang minyak di Pulau Lavan, Iran.
Kenaikan harga minyak global saat ini juga memengaruhi pergerakan nilai tukar.
“Ini yang membuat Indeks dolar kembali menguat signifikan,” ucap Ibrahim.
Sedangkan di sisi internal, Ibrahim menyatakan pertumbuhan ekonomi di kuartal 1-2026 yang mencapai 5,61 persen tak serta merta membuat ekonomi membaik dan rupiah menguat, karena komponen pembentuk pertumbuhan di triwulan pertama lebih didorong oleh belanja negara dan konsumsi, sedangkan investasi belum bergerak signifikan.
Meski pertumbuhan ekonomi tersebut cukup tinggi, namun dampak ketegangan di Selat Hormuz menimbulkan ancaman bagi industri domestik. Khususnya lewat ancaman pengurangan tenaga kerja. (rhm)







