Washington, Harian Umum - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan melalui sebuah wawancara yang ditayangkan Minggu (10/5/2026) pagi waktu AS, bahwa perang di Iran belum berakhir, dan pasukan militer mungkin perlu melanjutkan pertempuran di lapangan.
“Saya pikir perang ini telah mencapai banyak hal, tetapi belum berakhir,” katanya kepada Kepala Koresponden CBS News di Washington, Major Garrett, dalam wawancara televisi. Ini merupakan siaran pertamanya di AS sejak perang dengan Iran dimulai pada tanggal 28 Februari 2026.
Cuplikan wawancara itu, yang ditayangkan secara penuh pada Minggu malam, menyinggung keyakinan Netanyahu bahwa Iran masih menyimpan uranium yang diperkaya yang harus disingkirkan, meskipun ia tidak menjelaskan bagaimana hal itu akan terjadi.
“Masih ada situs pengayaan yang harus dibongkar. Masih ada proksi yang didukung Iran. Ada rudal balistik yang masih ingin mereka produksi. Sekarang kita telah mengurangi banyak di antaranya, tetapi semua itu masih ada, dan masih ada pekerjaan yang harus dilakukan," katanya.
Ketika didesak tentang bagaimana hal itu dapat dicapai, perdana Netanyahu tertawa.
“Anda masuk, dan Anda mengambilnya,” kata dia.
"Saya tidak akan berbicara tentang cara militer, tetapi apa yang Presiden Trump katakan kepada saya, 'Saya ingin masuk ke sana.' Dan saya pikir itu bisa dilakukan secara fisik. Itu bukan masalahnya. Jika Anda memiliki kesepakatan, dan Anda masuk, dan Anda menghancurkannya, mengapa tidak? Itu cara terbaik," imbuhnya.
Serangan AS dan Israel awalnya didalilkan karena Iran punya senjata nuklir dan dapat mengancam AS, akan tetapi sejauh ini hal itu tidak terbukti karena program nuklir Iran untuk tujuan damai, khususnya untuk menghasilkan listrik dan memproduksi isotop medis.
Belakangan terungkap, tujuan sebenarnya adalah untuk menggulingkan pemerintahan Revolusi Iran yang saat ini berkuasa, dan diganti dengan rezim boneka yang dapat mereka atur dan kendalikan, dengan Mohammad Reza Pahlevi sebagai pemimpinnya.
Yang perlu digarisbawahi dari pernyataan Netanyahu adalah bahwa perang melawan Iran "belum berakhir" karena masih ada situs pengayaan uranium yang harus dibongkar dan kelompok proksi yang didukung Iran. Artinya, menurut Netanyahu, perang melawan Iran akan berskhir jika fasilitas nuklir Iran dihancurkan, begitupun proxy-roxy-nya.
Dalam proposal terbaru yang dikirim AS kepada Iran melalui Pakistan sebagai mediator, dan proposal itu telah ditanggapi Iran, akan tetapi ditolak Presiden AS Donald Trump, Wall Street Journal menyebut ada beberapa syarat yang diajukan Trump kepada Iran untuk menghentikan perang, salah satunya Iran harus membongkar tiga fasilitas nuklirnya.
Berikut syarat-syarat dimaksud:
- Larangan pengayaan uranium selama 20 tahun
• Serahkan semua bahan yang telah diperkaya
• Komitmen resmi untuk tidak mengejar senjata nuklir
• Pembongkaran Fordow, Natanz, dan Isfahan (fasilitas nuklir, red)
• Larangan segala aktivitas nuklir bawah tanah
• Izinkan pemeriksaan dan sanksi dalam kasus pelanggaran apa pun
Proxy Iran yang dimaksud Netanyahu adalah Houthi di Yaman dan Hizbullah di Lebanon yang selama perang AS-Israel kontra Iran pecah sejak 28 Februari, setelah AS-Israel menyerang Iran, berdiri bersama Iran untuk melawan AS dan Israel. (man)







