Jakarta, Harian Umum - Setelah M Qodari, satu lagi pendukung militan mantan Presiden Joko Widodo alias Jokowi dapat kursi empuk di pemerintahan Prabowo Subianto.
Orang tersebut adalah Arief Poyuono, mantan wakil ketua umum Partai Gerindra yang juga mantan ketua umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu.
Ia dingkatt menjadi salah satu komisaris di PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Pengangkatannya tercantum pada salinan Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor: SK-265/MBU/09/2025 dan Keputusan Direktur Utama Perusahaan Perseroan (Persero) PT Danantara Asset Management selaku para pemegang saham perusahaan Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia dengan nomor SK.060/DI-DAM/DO/2025 Tanggal 19 September 2025 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-anggota Dewan Komisaris Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pelabuhan Indonesia.
Jejak digitalnya, baik di akun X-nya dengan username @bumnbersatu maupun pemberitaan media online, menunjukkan dengan sangat jelas bahwa Arief adalah pendukung militan Jokowi. Bahkan seperti halnya pendukung Jokowi yang lain, dia juga pernah menjuluki umat Islam yang berseberangan dengan pemerintahan Jokowi dengan sebutan Kadrun, akronim dari kadal gurun.
Jejak digitalnya di akun X-nya yang menunjukkan dia seorang pendukung Jokowi antara lain bisa dilihat dari cuitannya ada 5 Januari 2025 setelah OCCRP memasukkan Jokowi sebagai nominator salah satu pemimpin terkorup di dunia untuk tahun 2024.
"Waduh@jokowi kasian amat ya.. Skrg didunia terkenal sebagai tokoh terkorup di dunia.Kok tega teganya sampai memframing dgn fitnah yang jahat sekali Ayo kita rakyat Indonesia bersatu utk #savejokowi #savekaesang #savegibarn #savebobby,” katanya.
Pada 21 Juli 2025, ketika mantan Rektor UGM Sofyan Effendi muncul dalam sejumlah kanal YouTube, antara lain Langkah Update, mengungkap bahwa Jokowi tidak pernah lulus UGM, dan ijazahnya diduga palsu, pada tanggal 27 Juli 2025 Arief mencuit begini:
"Aduh kok bosan2 sih bahas fitnah Ijasah Palsu bung Joko Widodo sih Prof. Terbelakang banget sih omongannya sbg profesor. Ini yg buat UGM jd kaga ada mutunya deh. Untung aja aku lulusan prof dari Univ Praja Muda Karangan ( Pramuka) @jokowi @jhonsitorus_19 @BosPurwa @Dennysiregar7," kata dia.
Menurut detikcom, Arief pernah mengeluarkan pernyataan mengusir Partai Demokrat dari Koalisi Indonesia Adil Makmur yang mengusung Capres dan Cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pada 2018 jelang Pemilu 2019. Paling parah pada 2020, saat dia menuai kontroversi pada sebuah wawancara yang ditayangkan di YouTube dan menyinggung isu 'PKI dimainkan kadrun'.
Kala itu Arief Poyuono mengatakan rekan-rekan separtainya gagal paham menilai video tersebut, karena dia tak membawa nama partai. Tagar #TenggelamkanGerindra sempat menjadi trending topic di Twitter gara-gara Arief Poyuono.
"Mereka itu semua politisi gagal paham, sok tahu, dan otaknya kayak kadrun-kadrun menilai video wawancara YouTube saya di kanal Bangsa. Saya dalam wawancara di kanal Bangsa jelas-jelas menyatakan diri saya sebagai Ketua Umum Serikat Pekerja BUMN. Kedua, saya membuat rekaman di kantor FSP BUMN Bersatu dan berlatar belakang Bendera Serikat Pekerja," kata Arief pada tanggal 20 Juni 2020).
Atas hal ini Arief harus disidang. Gerindra menyebut dirinya harus bertanggung jawab atas pernyataannya itu.
Pada akhirnya, akhir 2020 Arief terpental dari posisi Waketum Gerindra usai kepengurusan partai periode 2020-2025 diumumkan pada September 2020. Saat itu, namanya tak ada lagi pada struktur inti partai yang didirikan Prabowo Subianto itu. (man)







