Jakarta, Harian Umum-Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengaku malu saat melakukan kunjungannya ke Swiss. Sebab, katanya, coklat Swiss itu berasal dari Indonesia.
"Mestinya kita harus malu dengan mereka. Seperti Swiss, dia nggak punya apa-apa, tapi coklatnya paling hebat. Padahal coklatnya dari Indonesia loh. Lalu jam tangan, ya sudahlah itu mah nggak usah diomongin lagi," ujar Erick, di Jakarta, Selasa (20/10).
Belum lama ini, Erick melakukan kunjungan ke Inggris dan Swiss. Dari kunjungan itu menghasilkan komitmen kerja sama dari perusahaan global dengan BUMN RI. Meski minim sumber daya, Erick mengaku kagum dengan Swiss karena memiliki produk unggulan seperti coklat.
Berdasarkan hal itu dia menaruh harapan besar kepada para pengusaha muda tanah air. Erick berharap para pengusaha muda bisa terbiasa inovasi dan adaptasi dengan perkembangan zaman.
Erick mencontohkan di masa pandemi COVID-19 sebenarnya banyak peluang yang bisa digarap para pelaku UMKM, tapi syaratnya harus masuk ke digitalisasi. Lalu untuk produk sendiri, pelaku UMKM seharusnya bisa membaca kebutuhan masyarakat di masa pandemi yang berubah signifikan.
"Contoh dengan COVID-19 masyarakat akan berpikir ingin lebih sehat. Nah bukan tidak mungkin tumbuhnya peluang makanan vegan atau makanan sehat lainnya. Ini opportunity. Atau misalnya delivery system, yang tadinya rumah dan pasar ini mungkin sulit, nah perlu mungkin orang yang punya pembaharuan ini mengantar sampai ke rumah. Bahkan ada yang lebih ekstrim lagi, ada sharing dapur bersama. Ini point kolaboratif dan adaptasi. Jadi pertama digitalisasi itu mau tidak mau, adaptasi, kemudian kolaboratif," tutupnya. (hnk)







