Jakarta, Harian Umum-PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) menambah 25 persen armada pada 10 koridor busway di Jakarta. Hal ini dilakukan seiring diterapkannya kembali kebijakan ganjil genap.
"Tujuan ganjil genap ini sebenarnya adalah agar masyarakat tetap tinggal dirumah, lalu kemudian kita mengantisipasi ekses daripada diperlakukan nya ganjil genap. Nah untuk mengantisipasi itu, maka kemudian kita transjakarta mempersiapkan diri," ujar Direktur Umum PT. Transportasi Jakarta Sardjono Jhoni Tjitrokusumo melalui video yang di unggah Transjakarta, di Jakarta, Selasa (4/8).
Diakuinya, Transjakarta merencanakan akan mengoperasikan armada sebanyak 751 unit mulai Agustus ini. Ratusan armada itu akan dioperasikan pada 13 koridor busway yang ada di ibu kota. Namun, dengan adanya ganjil genap, pihaknya menambah 25 persen menjadi 870 unit armada dan dioperasikan pada 10 koridor busway saja.
"Kita fokus pada 10 koridor. Koridor tersebut adalah koridor 1 sampai dengan koridor 10 yang melewati jalan protokol. Namun demikian, secara keseluruhan untuk 13 koridor tetap akan dilayani menggunakan 870 armada. Nah 10 koridor itu adalah koridor 1 s/d koridor 10 gitu ya, jadi yang melewati jalan-jalan protokol. Jadi lepas dari itu, yang 13 koridor itu secara total nanti akan dilayani oleh 870 an armada, nah ini yang kita upayakan," katanya.
Disinggung soal skema pembatasan pelanggan Transjakarta, Jhoni menyebut pihaknya menerapkan aturan kapasitas dibawah ambang batas yang ditetapkan Pemprov DKI. Yakni, 50 persen dari kapasitas penumpang.
"Tetap, tadi kembali kepada keterangan sebelumnya, kita di kantor transjakarta kan menerapkan 30%, 30%, 30% jadi itu masih dibawah ambang batas yang diterapkan oleh pemprov DKI. Jadi untuk di angkutan, di bis-bis angkutan transjakarta maupun di bis kota lain nya, kita tetap menerapkan itu, jadi ada batasan 50% dari total kapasitas angkut di sertifikasi atau di aturan yang diberikan, jadi tetap itu dijalankan," lanjutnya.
Selebihnya, Jhoni berpesan agar masyarakat tetap melaksanakan pritokol kesehatan covid-19 secara disiplin. Kalau dirasa tidak penting, tidaknusah kekuar rumah. Atau jika dianggap harus, maka tetap patuhi protokol kesehatan. Untuk hal itu, Tije tetap menggunakan 4 pola sebagai parameter pengecekan.
"Kita ada 4 parameter atau pengecekan yang selalu akan kita laksanakan. Pertama adalah pengecekana temperatur. Selama itu dibawah 37,5°c kita masih mengizinkan orang untuk naik bis transjakarta. Kedua, penggunaan masker juga diperhatikan. Jadi penggunaan masker dengan benar, jangan hidungnya kelihatan atau malah ditaruh didagu dsb, karena masker itu bukan akseseoris. Masker itu alat atau tools yang melindungi diri kita dan melindunginorang lain. Ketiga, lalu kemudian cuci tangan di setiap halte kita sediakan fasilitas cuci tangan. Jadi sebisa mungkin cuci tangan menggunakan sabun atau handsanitizer, baik yang disediakan transjakarta atau membawanya sendiri. Nah yang terakhir kita memastikan adanya jarak yang cukup antar pelanggan baik itu di halte maupun di bis. Jadi segala macam bentuk atau pola dafi transjakarta itu kita sesuaikan untuk menjaga bahwa physical distancing itu dilaksanakan dengan baik," tutupnya. (hnk)







