Jakarta, Harian Umum - Forum Negarawan menyampaikan seruan moral terkait penyelenggaraan Pilpres 2024.
Seruan itu disampaikan dalam acara Forum Negarawan ke-11 yang diselenggarakan di Pura Mustika Dharma, Cijantung, Jakarta Timur, Kamis (11/1/2024), dan memgangkat tema Cahaya Spiritual Sebagai Pemandu Menangani Permasalahan Kita Semua dalam Bernegara".
Seruan itu dibacakan oleh sembilan dari 45 presidium Forum Negarawan, di antaranya Eko Sriyanto Galgendu, Prof. Yudhie Haryono, mantan Menkes Siti Fadila Supari dan Dokter Tifauzia Tyassuma.
Begini seruan moral mereka tersebut:
Salam Negarawan
Pemilihan umum menjadi harapan akan hadirnya para pemimpin yang berjiwa satria dan negarawan. Kesadaran bersama perlu dikuatkan serta dibangun untuk mengerti bahwa proses Pemilu hanya berlangsung 5 tahun sekali. Jangan sampai mengorbankan cita-cita berbangsa dan bernegara.
Mengerti dan memahami atas berbagai perkembangan situasi dan kondisi bangsa dan negara saat ini. Pada kondisi Pemilu 2024, yang semakin memanas dari berbagai kubu yang bersaing, maka membutuhkan kekuatan yang di tengah (Non Blok-Bebas Aktif) yang berkomitmen untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
Karena berbagai hal di atas, kami yang bersama di dalam Forum Negarawan menyerukan "Indonesia Damai guna menjaga komitmen berbangsa dan bernegara yang bersatu, adil dan makmur
Dengan ini kami mengajak, menghimbau dan menegaskan:
1. Terselenggaranya pemilihan umum (Pemilu), yang tepat waknu, aman, damai, jujur, adil, bebas, rahasia, transparan, terhormat dan bermartabat.
2. Terwujudnya netralitas penyelenggara Pemilu, netralitas aparatur negara, netralitas aparatur pemerintah, netralitas aparatur desa/kelurahan dalam pelaksanaan pemilihan Presiden/Wakil Presiden dan pemilihan legislatif
3. Menjaga dan mewujudkan stabilitas sosial, stabilitas politik dan stabilitas keamanan nasional
4. Mencegah penyebaran berita bohong (hoaks) yang berpotensi memecah belah bangsa
5. Menghentikan berbagai aktifitas skenario konflik sosial dan konflik politik yang dapat mengarah kepada konflik sosial
6. Menyerukan kepada semua warga bangsa untuk menggerakkan doa dan menggerakkan kekuatan spiritual demi dan untuk keselamatan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Forum Negarawan memandang bahwa pergantian kepemimpinan nasional harus ada, karena itu merupakan rangkaian dari cara kita mencari sosok-sosok yang lebih baik dari yang sebelumnya. Memang ada mekanisme-mekanisme yang lain, tapi mekanisme yang kita sepakati adalah Pemilu," kata Prof. Yudhie Haryono.
Presidium yang juga Sekjen Forum Negarawan ini mengakui kalau ada lima yang dikhawatirkan organisasinya saat ini, yaitu:
1. Bangkitnya nepotisme atau banjirnya KKN yang gagal diantisipasi rezim-rezim sebelumnya maupun yang saat ini berkuasa;
2. Bangkitnya Orde Kecurangan yang berlangsung di setiap Pemilu;
3. Disorientasi negara keluarakibay konflik yang panjang yang dipicu pertarungan antarkelompok dan antarpartai yang dapat menenggelamkan bangsa Indonesia untuk tidak memikirkan target-target ke luar;
4. Ketakutan munculnya fundamentalis dalam segala hal, fundamentalis agama, fundamentalis suku, dan fundamentalis garis keras yang membuat orang-orang terbaik tidak bisa terpanggil dalam pengelolaan kenegaraan
5. Problem kemiskinan yang tidak ditanggulangi karena tidak menjadi isu utama dalam Pilpres
"Karena itu Forum Negarawan mengimbau kepada siapa saja yang terlibat dalam Pilpres, baik Capres, pendukung maupun pemilih, agar menhedepankan cara-cara yang jurdil dan transparan, tidak mengedepankan hoaks, saling caci maki, dan menempatkan moral, atitude, etik, keadilan dan kejujuran sebagai panduan," imbuh Prof. Yudhie.
Seperti diketahui, menjelang penyelenggaraan Pilpres pada 14 Februari 2024 mendatang, atmosfir perpolitikan Indonesia memanas akibat persaingan tiga pasangan Capres-Cawapres yang berkontestasi karena semuanya ingin menang dalam satu putaran.
Ketatnya persaingan itu membuat Timses dan para pendukung ketiga pasangan yang berkontestasi itu saling serang di media sosial, dan bahkan tak segan-segan menyebarkan hoaks dan ujaran kebencian.
Pasangan nomor urut 1 Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (AMIN) bahkan dilaporkan pendukung pasangan nomor urut 2 Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka karena menggunakan akronim AMIN dan karena mengungkap aset Prabowo berupa tanah serta mengingkit pembelian alutsista bekas oleh Prabowo yang masih menjabat Menteri Pertahanan.
Soal tanah Prabowo dan pembelian alutsista diungkap Anies saat debat Capres ketiga. (rhm)






