Jakarta, Harian Umum- Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang dipastikan meledak setelah nyungsep di Tanjung Karawang, Jawa Barat, dengan bagian kepala terlebih dahulu setelah dinyatakan hilang kontak pada pukul 06:33 WIB, Senin (29/10/2018).
Hal ini diketahui berdasarkan keterangan Nahkoda KM Asjaya II, Rahmat Selamet, salah satu saksi mata kejadian ini.
Kepada TVOne, Rabu (31/10/2018), Rahmat mengaku tidak melihat saat pesawat Lion Air JT 610 melintas di udara dan kemudian menghujam laut.
"Saya hanya melihat ekor pesawat itu, kemudian terdengar suara ledakan yang sangat keras, dan air laut naik," katanya.
Nahkoda kapal pengangkut minyak sawit ini menambahkan, saat kejadian, antara kapalnya dengan titik pesawat Lion Air jatuh sekitar 1,8 kilometer. Sadar bahwa ada pesawat jatuh, Rahmat mengaku dirinya langsung menghubungi pihak terkait. Salah satunya Syahbandar Tanjung Priok, dan mendatangi lokasi jatuhnya pesawat untuk melakukan evakuasi.
"Di situ kami menemukan serpihan-serpihan badan pesawat, kursi pesawat, pelampung, tabung-tabung, dan barang-barang seperti tas," katanya.
Sebelumnya, seorang warganet pemilik akun Conchizzlin mengabarkan kalau pesawat Lion Air JT 610 itu memang bermasalah karena ia punya pengalaman buruk dengan pesawat itu saat kembali ke Jakarta dari Denpasar, Bali, pada Minggu (28/10/2018) malam.
"(Jatuhnya pesawat itu) cukup bikin gue shock karena itu pesawat yang gue & tim @katakanputus_ttv tumpangi dari Denpasar ke Jakarta TADI MALAM," katanya.
Ia menjelaskan, boarding yang seharusnya pukul 18:15, molor jadi 19:30. Itu pun lama tidak take off, sementara mesin beberapa kali mati, dan AC pun mati. Pesawat sempat keluar tempat parkir Bandara Ngurah Rai dan bergerak menuju runaway, tapi karena 'kesalahan teknis', pesawat kembali ke tempat parkir dan stay di situ selama lebih dari 30 menit.
Selama di tempat parkir, banyak penumpang, termasuk anak-anak, mengalami kekurangan oksigen, sehingga ada yang muntah-muntah. Deru mesin pesawat pun terdengar berbeda, dan lantai pesawat terasa panas.
"Awak kabin tidak menjelaskan apa yang terjadi. Setelah banyak penumpang protes dan memaksa pintu dibuka, barulah awak kabin mengizinkan. Sebagian penumpang keluar untuk menghirup udara segar, termasuk saya," imbuh warganet tersebut.
Tak lama penumpang berada di luar pesawat, penumpang dipaksa masuk karena menurut awak kabin, akan dilakukan engine checking. Penumpang kembali ke pesawat, dan menemukan AC yang masih mati dan badan pesawat super panas. Sempat ada pengumuman kalau pesawat akan take off, tapi pesawat tak juga bergerak untuk lepas landas, bahkan mesin berkali-kali mati.
Pesawat akhirnya take off dengan suara berbeda dari biasanya, khususnya di sisi sebelah kanan badan pesawat. tapi akhirnya pesawat landing di Bandara Soekarno-Hatta.
"Leganya maksimal .... akhirnya tiba meski banyak masalah dan jam kedatangan meleset jauh," kata Conchizzlin.
Badan Pesawat Belum Ditemukan
Hingga hari ketiga pasca jatuhnya pesawat, Tim SAR Gabungan baru dapat mengevakuasi 48 kantong jenazah, namun semuanya dalam bentuk potongan-potongan tubuh, bukan jasad utuh, dan serpihan pesawat.
Badan pesawat belum ditemukan. sehingga zona evakuasi diperluas dari 10 nautical miles (NM) menjadi 15 NM.
"Kami akan kerahkan empat kapal peralatan bawah air kapal negara SAR dari Bandung," ujar Direktur Operasi Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto di Kantor Basarnas, Jakarta Pusat, Selasa (30/10/2018).
Kapal-kapal tersebut akan dilengkapi dengan peralatan echo beam sounder untuk melacak keberadaan badan pesawat karena diduga di tubuh pesawat itulah jenazah korban banyak berada, dan untuk menemukan black box yang berisi data-data pesawat untuk mengungkap penyebab jatuhnya pesawat itu.
"Kami akan gunakan segala alat yang kami miliki, dari rekan BPPT dan Pertamina kami juga akan optimalkan untuk penyelaman buat besok (hari ini, red)," imbuh Nugroho.
Tim SAR gabungan telah mengerahkan sebanyak 35 unit alutsista di antaranya KM SAR, KRI, TNI AL, KP Polri dan Bea Cukai. Kapal tersebut dilengkapi dengan sistem sonar guna mendeteksi keberadaan badan utama pesawat di bawah laut.
Tim tersebut beranggotakan 50 penyelam dari Basarnas Spesial Grup beserta Marinir. Selain itu, peralatan udara seperti HR 159, HR 3181 Basarnas dan CN 235, juga dikerahkan dalam penyisiran di permukaan laut pada radius 10 Nautical Miles atau setara dengan 18,52 kilometer.
Seperti diketahui, saat jatuh, Lion Air JT 610 membawa 189 kru dan penumpang. (rhm)







