Jakarta, Harian Umum- Kepala Pusat Pengkajian Nusantara-Pasific (PPNP) Haris Rusly Moti mengatakan, sejak Orde Baru diruntuhkan dan masuk era reformasi, kekuasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) beralih ke tangan sembilan taipan yang disebut sebagai 9 Naga.
Aktivis Sri Bintang Pamungkas bahkan mengatakan, salah satu taipan tersebut, yakni James Riyadi (JR), merupakan salah satu dalang kejatuhan Presiden Soeharto, dan dana untuk peruntuhan Orde Baru itu tak hanya dari Taipan, tapi juga dari Amerika Serikat (AS).
Hal ini mereka ungkap dalam diskusi bertajuk 'Kasus Meikarta, Ujian Berat Bagi Independensi KPK' di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (21/11/2018).
Menurut Sri Bintang, kisah berawal setelah JR lari dari Makau, China, tempat dimana JR lahir dan dibesarkan, lalu mendirikan bank di Little Rock, Arkansas, AS. Di sana, JR berkenalan dengan Bill Clinton dan Hillary Clinton.
"Saya tak tahu apakah saat itu Clinton dan Hillary telah menikah atau belum, tapi yang pasti saat Clinton menjadi Capres, James memberi bantuan dana yang dianggap melampaui batas maksimal oleh pemerintah AS, sehingga James kemudian dilarang untuk kembali memasuki negara tersebut. Larangan baru dicabut setelah Hillary menjadi Menteri Luar Negeri AS," katanya.
Pada 1994, Clinton ke Bogor, Jawa Barat, dan bertemu JR. Dalam kesempatan itu Clinton yang saat itu masih menjadi Presiden AS, meminta JR menjatuhkan Soeharto karena sudah 23 tahun gagal melepaskan Timor Timur dari wilayah NKRI. JR setuju, lalu bersama konco-konconya melakukan sejumlah rekayasa (termasuk krisis ekonomi dan kerusuhan Mei 1998), dan Soeharto tumbang.
"Jadi, ketika peristiwa itu terjadi dan masyarakat senang karena Soeharto jatuh, sesungguhnya bangsa Indonesia cuma skrup-skrup yang dipakai untuk mencapai tujuannya," imbuh dia.
Dosen Universitas Indonesia (UI) itu mengingatkan kalau keinginan Clinton menjatuhkan Soeharto juga karena AS ingin menguasai Indonesia. Karenanya, setelah Soeharto jatuh, UUD 1945 diamandemen sesuai kepentingan negara adi daya tersebut.
Haris membenarkan pernyataan Sri Bintang Pamungkas ini. Ia bahkan mengatakan, sejak Soeharto digulingkan, bangsa Indonesia sebenarnya telah masuk a symetric war, atau gerakan untuk menguasai Indonesia yang dikobarkan AS di bawah kepemimpinan Clinton dan dilanjutkan Barack Obama, dengan China melalui 9 Naga yang dipimpin JR sebagai leader-nya.
"Karena itu setelah Soeharto tumbang, UUD 1945 diamandemen sehingga Indonesia menjelma menjadi negara liberal, proyek reklamasi dibuat di Teluk Jakarta dan proyek kota hunian Meikarta dibuat di Cikarang, Jawa Barat," katanya.
Kepala PPNP ini juga mengingatkan bahwa masuknya senjata-senjata secara ilegal ke Indonesia dan masuknya para tenaga kerja asing (TKA) asing asal China berambut cepak, memperkuat indikasi tersebut, karena TKA-TKA itu dapat difungsikan pemerintah China untuk mengamankan misinya di Indonesia jika penduduk negara ini melawan.
Haris juga mengatakan, setelah Soeharto dijatuhkan, kekuasaan negara kemudian beralih ke 9 Naga menguasai Indonesia, karena sistem liberal yang menciptakan sistem Pilkada dan Pemilu langsung berbiaya sangat mahal, membuat para kandidat berkolaborasi dengan para taipan yang diketahui memiliki uang berlimpah, sebagai penyokongnya.
Saat para kandidat itu terpilih sebagai presiden, gubernur, bupati dan walikota, mereka secara otomatis berada di bawah kendali taipan-taipan tersebut, dan setelah itu, dengan kekuatan uangnya, para taipan melebarkan kekuasaannya kemana-mana, baik di lembaga eksekutif, legislatif, maupun yudikatif.
"Sekarang mereka telah menguasai semua lembaga negara, termasuk Mahkamah Agung, kepolisian, kejaksaan, kementerian, dan lain-lain. Karena itu jangan heran jika mereka bisa membangun proyek reklamasi dan Meikarta tanpa didahului pembuatan perizinannya, dan penegakkan hukum seakan tumpul kalau sudah bersinggungan dengan mereka, keluarganya maupun dengan orang-orang yang seetnis dengannya," imbuh dia.
Efek Trump
Meski demikian, Haris mengatakan kalau sejak Donald Trump menjadi presiden AS pada Januari 2017, kondisi mendadak berbalik, karena Trump memusuhi China, dan mengobarkan perang dagang terhadapnya. Ini terjadi karena saat Clinton dan Obama berkuasa, banyak pengusaha besar AS, seperti Facebook dan Microsoft, yang lari ke China karena negara itu mengenakan pajak usaha yang tinggi, sedang China sebaliknya.
"Dengan perang dagang itu, Trump ingin menarik kembali para pengusahanya dari China," imbuh dia.
Gejolak politik di AS ini berimbas ke Indonesia, karena Presiden Jokowi yang naik menjadi Presiden melalui Pilpres 2014, didukung 9 Naga. Akibatnya, dukungan AS terhadap Jokowi pun melemah.
"Maka, kalau KPK kemudian berani membongkar kasus korupsi perizinan proyek Meikarta yang merupakan proyek Lippo Group milik James Riyadi, dan menggeledah rumah James, itu menunjukkan bahwa efek Trump telah menimbulkan powerless terhadap 9 Naga," katanya.
Haris menambahkan, kondisi para Taipan semakin parah karena ketidakmampuan Jokowi mengelola negara, membuat pertumbuhan ekonomi anjlok menjadi hanya 5%-an per tahun, dan ikut memukul bisnis properti yang juga digeluti 9 Naga.
Tak hanya itu, mereka juga telah menggelontorkan uang hingga triliunan rupiah untuk membiayai Ahok agar dapat memenangkan Pilkada Jakarta 2017, namun gagal.
Ia mencatat, selain JR, Bos Agung Sedayu Group ASG Sugianto Kusuma alias Aguan juga nampaknya tengah mengalami powerless karena sempat diperiksa KPK dalam kasus suap proyek reklamasi. Bahkan Presdir PT Agung Podomoro Ariesman Widjaja dipenjara karena kasus itu.
Maka, tegas Haris, saat ini merupakan kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk dapat kembali merebut kedaulatan dari 9 Naga.
"Caranya, dengan menggunakan KPK," tegasnya. (rhm)







