Jakarta, Harian Umum - Para analis menilai, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sedang mencari strategi untuk keluar dari perang melawan Iran yang diciptakannya sendiri bersama Israel sejak 28 Februari 2026.
"CNN melaporkan, upaya itu dilakukan Trump seiring dengan menipisnya stok persenjataan dan melemahnya dukungan politik di dalam negeri AS terhadap perang itu," demikian dilansir Al Mayadeen, Senin (10/8/2026).
David Sanger, seorang analis politik dan keamanan nasional CNN, mengatakan bahwa Presiden Trump sedang mencari cara untuk membuka kembali Selat Hormuz dan kemudian mengakhiri keterlibatannya dalam perang tersebut.
"Saya pikir Iran tentu merasakan bahwa Presiden Trump menginginkan jalan keluar dari konflik ini," kata Sanger kepada CNN pada Senin (10/8/2026).
Ia menjelaskan alasannya, yaitu: "Bahwa AS kehabisan amunisi, kehabisan pilihan, dan pada dasarnya kehabisan kesabaran".
"Sanger juga mencatat bahwa Trump mendapat tekanan politik dari dalam negerinya sendiri, bahkan dari kalangan politisi Partai Republik sendiri, dan ini menunjukkan bahwa perang yang diciptakan Trump itu tidak mendapat dukungan yang baik," imbuh Al Mayadeen.
Dari laporan CNN juga diketahui kalau selama beberapa minggu terakhir, Trump secara pribadi telah berkomunikasi dengan para penasehatnya tentang perlunya menemukan jalan keluar dari perang melawan Iran.
"Kolonel Angkatan Udara AS, Purnawirawan Cedric Leighton, mengatakan bahwa "sejumlah besar orang" di pemerintahan memiliki pandangan yang sama dan percaya bahwa konflik tersebut perlu diakhiri," kata Al Mayadeen lagi mengutip CNN.
Dari perspektif militer, Leighton yang menyoroti kendala logistik, menjelaskan bahwa persediaan amunisi yang diperlukan untuk mempertahankan pasukan AS, termasuk persediaan rudal yang semakin menipis untuk sistem Patriot dan Terminal High-Altitude Area Defense (THAAD), memiliki "dampak yang cukup besar" pada kemampuan Washington untuk melakukan operasi militer di Iran.
Persediaan Rudal Patriot Turun di Bawah 1.700
The New York Times (NYT) pada Sabtu (8/8/2026) melaporkan bahwa berdasarkan bocoran seorang pejabat AS yang tak ingin namanya disebutkan, diketahui kalau persediaan rudal Patriot AS telah turun di bawah 1.700 di tengah perang melawan Iran,.
"Surat kabar itu mengatakan Washington mungkin membutuhkan lebih dari dua tahun untuk mengisi kembali lebih dari 1.500 rudal Patriot yang telah digunakan selama perang melawan Iran," kata Al Mayadeen mengutip NYT.
Penipisan stok itu dilaporkan memengaruhi pengiriman senjata AS ke luar negeri.
Narasumber NYT juga mengatakan, upaya untuk melawan serangan Iran telah mengurangi persediaan pertahanan udara AS sedemikian rupa, sehingga Washington terpaksa menunda pengiriman ke pelanggan di Eropa dan Asia.
"Kekurangan Patriot merupakan bagian dari penipisan persediaan senjata AS yang lebih luas selama perang melawan Iran," kata Al Mayadeen.
Laporan sebelumnya menunjukkan bahwa Washington telah menghabiskan hampir semua persediaan rudal ATACMS dan PrSM selama konflik dengan Iran, menambah tekanan lebih lanjut pada sistem produksi senjata AS yang sudah tegang.
Pola ini penting karena AS secara bersamaan berupaya mempertahankan komitmen militer di berbagai medan perang sambil memasok senjata kepada sekutunya. (man)







