Jakarta, Harian Umum - Masyarakat Maluku kecewa karena tokoh yang mereka banggakan, kagumi dan bahkan telah dianggap sebagai teladan dalam masalah kebangsaan maupun bernegara, tidak ditetapkan sebagai salah penerima gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah pada Hari Pahlawan 10 November 2025 lalu.
Tokoh dimaksud adalah Abdoel Moethalib Sangadji atau AM Sangadji, tokoh yang namanya dijadikan nama jalan di delapan daerah, termasuk Jakarta, Yogyakarta, Surakarta, Semarang, dan Ambon.
Kekecewaan itu terungkap dalam diskusi bertajuk "Menyoal Ketidakadilan dan Ketidakpastian Penetapan AM Sangadji Sebagai Pahlawan Nasional' yang diselenggarakan Ikatan Pemuda Pelajar Mandalise Indonesia & HMI Forum Universitas Nasional (Unas,) di Jakarta, Minggu (16/11/2025).
Ada lima narasumber dalam diskusi ini, yaitu Pengamat Intelijen dan Geopolitik yang juga tokoh asal Maluku, Amir Hamzah; anggota Komisi VIII DPR dari Dapil Maluku, Alimudin Kolatlena; Kamil Mony, cicit AM Sangadji; Yudhi Irsyadi Syafii, Wasekjen Syarikat Islam; dan SA Amahoru, aktivis asal Maluku.
"Kita butuh pahlawan sebagai teladan moral, untuk merajut persatuan dan teladan dalam berbangsa serta bernegara. Semua itu ada pada sosok AM Sangadji, " kata Yudhi.
Ia mencontohkan salah satu kelayakan AM Sangadji menjadi Pahlawan Nasional, yakni karena AM Sangadji adalah orang Indonesia pertama yang memperkenalkan kata nasionalisme dengan cara melauching Nasional Kongres I pada tahun 1926 di mana dirinya menjadi penggagas dan pembicara.
"Saat Nasional Kongres II atau Kongres Pemuda II, AM Sangadji menjadi steering commitee, dan AM Sangadji ikut merumuskan Sumpah Pemuda," imbuh Yudhi.
Dalam diskusi ini terungkap kalau cucu dan cicit AM Sangadji bersama Ikatan Pemuda Pelajar Mandalise Indonesia telah tiga tahun (2023-2025) berjuang agar AM Sangadji dianugerahi Pahlawan Nasional, akan tetapi meski seperti halnya di tahun ini (2025), di tahun 2023 dan 2025 pun AM Sangadji hanya masuk nominasi.
"Kami down, kecewa, karena pemerintah sepertinya memang sengaja untuk mengabaikan AM Sangadji. Padahal, nama AM Sangadji dijadikan nama jalan di delapan daerah, termasuk Jakarta, seharusnya itu bisa dijadikan dasar betapa besarnya jasa Beliau untuk bangsa dan negara ini," katanya.
Kekecewaan yang sama disampaikan oleh para narasumber yang lain. Apalagi, kata mereka, perjuangan AM Sangadji bersama HOS Cokroaminoto dannH Agoes Salim yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
'Kami mempertanyakan ada apa? Apakah karena AM Sangadji orang Maluku, bukan orang Jawa, sehingga diabaikan?" tanya Amahoru.
Amir Hamzah menyarankan agar perjuangan diintensifkan, dan narasumber yang lain sependapat. Mereka juga sepakat bahwa strategi memperjuangkan AM Sangadji menjadi Pahlawan Nasional akan diubah.
'Tahun depan harus menjadi titik balik di mana perjuangan kita untuk menjadikan AM Sangadji sebagai Pahlawan Nasional, akan berhasil," tegas Kamil.
Dikutip dari Wikipedia, AM Sangadji (3 Juni 1889 – 20 April 1949) adalah perintis kemerdekaan Indonesia yang dijuluki sebagai Jago Tua.
Bersama HOS Tjokroaminoto dan beberapa pejuang sezamannya seperti H. Agoes Salim, AM.Sangadji turut andil dalam mendirikan organisasi Syarikat Islam yang sebelumnya dikenal Serikat Dagang Islam pada tahun 1912.
Mobilitas AM Sangadji tidak hanya di Maluku tempat asalnya, tapi juga pernah berkiprah di Borneo, terlebih lagi di Jawa. Pada tahun 1920-an, di Samarinda (Kalimantan Timur), Abdoel Moethalib mendirikan Balai Pengadjaran dan Pendidikan Rakjat (BPPR) serta mengelola Neutrale School untuk menampung anak-anak sekolah dari kalangan bumiputera.
Setelah mendengar berita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, AM Sangadji melakukan perjalanan dari Samarinda ke Banjarmasin untuk bertemu dengan pemimpin BPRI, menyebarkan berita kemerdekaan bangsa Indonesia di daerah yang dilalui dan mengibarkan bendera Sang Merah Putih.
Oleh para pejuang kemerdekaan sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, AM Sangadji disebut sebagai pemimpin tua dan dijuluki Jago Tua, seperti diwartakan dalam beberapa surat kabar di ibu kota Republik, Hindeburg Kalimantan, serta Merdeka Solo. Pihak Kolonial Belanda dan Jepang pun tahu tentang kedudukan dia sebagai pemimpin tua itu.
Pada bulan April 1946, polisi Belanda berhasil menangkap Sangadji dan memenjarakan di penjara Banjarmasin.
Selepas keluar penjara Banjarmasin, Sangadji menyeberang ke pulau Jawa, dan memimpin Laskar Hisbullah yang berpusat di Yogyakarta, serta pernah menugaskan R. Soedirman untuk membentuk Laskar untuk daerah Martapura dan Pelaihari, serta Tamtomo sebagai penghubung Markas Besar Hisbullah Yogya untuk Kalimantan.
Ia tewas ditembak oleh gerombolan tidak dikenal di kediamannya di Jetis, Yogyakarta, pada 20 April 1949 dini hari. (rhm)







