Jakarta, Harian Umum- Satu lagi nama tokoh nasional muncul dalam wacana calon presiden (Capres) Pilpres 2018. Tokoh ini bahkan digadang-gadang dapat menjadi kuda hitam yang mampu mengalahkan Presiden Jokowi yang maju sebagai calon petahana.
Tokoh tersebut adalah Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengkubuwono X.
"Sultan layak menggantikan Jokowi, karena saya yakin dan percaya jika tahun depan Sultan maju sebagai capres, Jokowi kalah," tegas Ketua Masyarakat Pemantau Kebijakan Elsekutif dan Legislatif (Majelis) Sugiyanto kepada harianumum.com via telepon, Kamis (24/5/2018).
Keyakinan ini, jelas dia, muncul karena yang pertama, Sultan merupakan raja di tanah Jawa, dan dalam sejarah Indonesia, dari tujuh presiden di negara ini hanya satu yang bukan dari tanah Jawa, yakni BJ Habibie.
"Tapi Habibie jadi presiden pun karena Presiden Soeharto dilengserkan mahasiswa melalui aksi besar-besaran pada Mei 1998 atau people power, bukan karena menang Pilpres," jelas Sugiyanto.
Kedua, lanjut dia, Sultan memiliki kharisma dan ketokohan yang tak diragukan, karena hingga kini orang yang paling dihormati di Yogyakarta, salah satunya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono X.
"Sultan juga punya sisi kepribadian yang kontras dengan Jokowi, karena dia memiliki sisi kelembutan, tapi juga ketegasan yang tak dimiliki Jokowi. Karena ketegasannya itu, hingga kini hanya Yogyakarta provinsi yang tak mengizinkan etnis Tionghoa memiliki tanah, dan Sultan kukuh pada kebijakan itu meski digugat ke pengadilan," kata aktivis yang akrab disapa SGY itu.
Keempat, lanjut dia, Sultan termasuk salah satu dari empat tokoh reformasi, namun merupakan satu-satunya yang belum mendapatkan apa-apa dari negara. Tiga tokoh yang lain, dua di antaranya telah jadi presiden, yakni Gus Dur dan Megawati Soekarnoputeri; dan satu lagi, Amien Rais, pernah menjadi ketua MPR.
"Dari sini kita bisa melihat betapa luar biasanya Sultan, karena ini membuktikan bahwa dia bukan tipe manusia ambisius yang gemar mengejar pangkat dan jabatan, namun ketika diberi amanah, dia melaksanakannya dengan sebagai mungkin. Bukti hal ini dapat dikaji dari pertumbuhan ekonomi Yogyakarta yang terus naik selama dia memimpin. Pada 2006, pertumbuhan ekonomi DIY sebesar 5,05%. Pada 2017 naik menjadi 5,26%," katanya.
Diakui, dengan semua potensi dalam diri Sultan ini, maka tak salah jika ada anggapan bahwa Sultan bisa jadi merupakan "The Real Hope" bagi Indonesia, bukan Jokowi yang janji-janjinya pun banyak yang tak dipenuhi.
"Kalau Sultan nyapres, tahun depan kita betul-betul bakal punya presiden baru," katanya.
Ketika ditanya siapa yang akan mengusung Sultan mengingat Gerindra, PKS dan PAN sudah pasti mengusung Prabowo Subianto, sementara PDIP dan Golkar sudah memastikan diri mengusung Jokowi?
SGY menjawab, Sultan bisa diusung poros ketiga yang terdiri dari Demokrat, PPP dan PKB.
"Tapi politik itu dinamis. Sultan bisa diusung Demokrat dan Golkar atau mungkin saja kan Gerindra, PKS dan PAN memberi ruang untuk Sultan?" katanya.
SGY mengakui kalau Pilpres 2019 merupakan pertaruhan anak bangsa akan nasib Indonesia ke depan.
"Kita sudah lihat dan rasakan betul kemana orientasi pemerintahan Jokowi ini. Kalau kita cinta NKRI, cinta tanah air kita, tak ingin Islam dimarjinalkan dari Indonesia, maka hestek #2019GantiPresiden harus menjadi kenyataan," pungkas politisi PAN ini. (rhm)






