Jakarta, Harian Umum-Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah siapkan strategi menghadapi dampak La Nina yang kemungkinan terjadi Desember 2020 nanti.
Hal itu diungkapkan Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria saat meninjau Kerja Bakti Penanggulangan Banjir di Kali Sentiong, Johar Baru, Jakarta Pusat, Minggu (18/10).
Pria yang karib disapa Ariza itu mengatakan saat ini pihaknya sudah antisipasi tiga penyebab banjir di Jakarta.
Ketiga penyebab banjir itu yakni banjir lokal, banjir hulu dari dataran tinggi, dan banjir rob.
Selain ketiga penyebab banjir itu, saat ini Pemprov DKI Jakarta juga antisipasi curah hujan yang semakin meningkat setiap tahunnnya.
Misalnya saja tahun ini diprediksi curah hujan meningkat karena ada anomali cuaca perubahan iklim termasuk La Nina. Diprediksi La Nina akan terjadi di bulan Desember 2020 nanti.
"Maka diprediksi ada penambahan debit air saat musim hujan nanti. Jadi perlu upaya-upaya yang sangat ekstra. Misalnya saja pak Gubernur sudah mengeluarkan Ingub 52 tahun 2020," ujar Ariza.
Selain itu pihak Pemprov DKI juga sudah mengimbau seluruh jajaran mulai dari Walikota hingga Camat dan Lurah untuk antisipasi banjir.
Misalnya saja dengan program grebek lumpur yang diterapkan di 13 sungai Jakarta.
Pihaknya juga sudah meminta Dinas Sumber Daya Air (SDA) untuk persiapkan seluruh pompa air yang ada.
Seluruh jajaran SDA dan Bina Marga juga diminta menyiapkan program early warning system yakni berupa lubang resapan biopori di beberapa titik Jakarta.
Namun demikian, Pemprov DKI Jakarta optimis dapat mengurangi dampak banjir di musim penghujan nanti.
Pasalnya akan terdapat dua waduk besar di Cimahi dan Ciawi. Kedua waduk yang tengah disiapkan Kementerian PUPR itu diharapkan dapat atasi permasalahan banjir dari hulu.
Ariza menyebut kedua waduk yang diprediksi selesai tahun 2021 akan mengurangi 11 persen potensi banjir di Jakarta.
Selain itu, Pemprov DKI Jakarta bersama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) telah menyiapkan beberapa program dalam penanggulangan banjir Ibukota.
"Jadi semua kami upayakan tidak kurang dari Rp5 triliun dalam 2 tahun kedepan," jelas Ariza.
Namun demikian kata Ariza, program-program itu juga harus mendapatkan dukungan dari masyarakat dalam mencegah terjadinya banjir.
Misalnya saja dengan membuat sumur resapan di lingkungan rumah, membuang sampah pada tempatnya, dan gotong royong dalam membersihkan lingkungan seperti saluran air.
"Jadi saya harap seluruh Wali Kota juga mengajak seluruh warga di semua titik untuk terlibat aktif dalam rangka pembersihan lingkungan," harap politisi Partai Gerindra itu. (hnk)







