Jakarta, Harian Umum- Meski Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufri direkomendasikan GNPF-Ulama untuk dijadikan Cawapres Prabowo Subianto, namun Partai Gerindra agaknya belum tentu melaksanakan rekomendasi itu.
Pasalnya, Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria membantah bahwa telah ada kesepakatan antara partainya dengan PKS terkait Cawapres Prabowo.
"Belum sampai pada kesepakatan siapa yang menjadi Cawapres," katanya di Jakarta, Rabu (1/8/20!8).
Riza mengaku, Gerindra menghormati rekomendasi ijtima' ulama yang menginginkan Ketua Majelis Syura PKS Salim Segaf Al-Jufri dan Ustaz Abdul Somad sebagai Cawapres pendamping Prabowo Subianto. Menurut dia, di luar nama-nama yang beredar ada sembilan nama dari PKS dan mengerucut satu nama, lalu dari PAN ada empat nama dan mengerucut satu nama yaitu Zulkifli Hasan, dan Partai Demokrat ada nama Agus Harimurti Yudhoyono.
"Di luar itu ada nama yang juga harus menjadi perhatian bersama yaitu ada nama Anies Baswedan, non-partisan yang sangat kami pertimbangkan," ujarnya.
Hal itu menurut dia karena berintegritas, berkualitas dan berkompeten potensi dan juga prestasinya. Menurut dia nama-nama itu yang terus dikomunikasikan dan di godok, didialogkan dan didiskusikan mana yang terbaik dari yang terbaik.
Riza Patria mengatakan, nama Anies masuk dalam radar dari berbagai lembaga survei yang mendapatkan masukan dari masyarakat.
"Tapi nama-nama yang diusulkan oleh ulama kami perhatikan yang diusulkan oleh partai-partai. Tapi alhamdulillah sudah mengerucutlah ya, sudah tidak 10 nama seperti Jokowi. Klaimnya satu di kantong tapi kantongnya sepuluh, berarti masih banyak," katanya.
Seperti diketahui, hasil ijtima GNPF-Ulama merekomendasikan Salim dan Ustad Abdul Somad sebagai Cawapres Prabowo. Ustad Abdul Somad sudah menyatakan menolak, sementara Salim sebaliknya.
Direktur Pencapresan DPP PKS Suhud Aliyudin bahkan telah meminta kepada Prabowo agar mempertimbangkan secara serius rekomendasi ulama tersebut. Mika tidak, maka akan menjadi blunder bagi Prabowo dan Gerindra.
"Ini harus dipertimbangkan serius keinginan dari umat, karena tidak bisa dianggap main-main. Kenapa? Karena kalau ini tidak disikapi secara tepat, maka bisa menjadi blunder bagi Prabowo dan Gerindra," kata Suhud di Jakarta, Rabu.
Suhud menjelaskan, PKS tidak mempersoalkan masuknya Partai Demokrat dan PAN dalam koalisi karena akan memperbesar dukungan dan memperluas jumlah pemilih di koalisi, serta tidak akan mempersempit peluang kadernya menjadi cawapres.
Dia meminta Prabowo tetap harus memilih Cawapres dari internal PKS meski mendapat tambahan dukungan dari partai lain karena 'tulang punggung' koalisi adalah PKS dan Gerindra. Komunikasi politik kedua partai sudah cukup panjang dan saling mengerti.
"PKS-Gerindra itu ada kesepakatan antara Prabowo san Salim Segaf bahwa Capres dari Gerindra dan cawapres dari PKS. Berdasarkan itu maka penambahan anggota koalisi, baik itu Demokrat atau PAN kalau itu benar masuk, itu harus memperhatikan aspek itu," tegasnya. (man)







