Jakarta, Harian Umum - Nilai tukar rupiah terhadap dolar pada Selasa (2/6/2026) pagi ini melemah lagi setelah ditutup menguat ke posisi Rp17.805/dolar AS pada penutupan Senin
Kurs rupiah hari ini dibuka terkoreksi tajam hingga 0,43% atau 77 poin dan jatuh ke posisi Rp17.882/dolar AS.
Rupiah kemudian bergerak fluktuatif dan mengurangi sedikit pelemahannya, sehingga ketika pukul 09:44 WIB, menurut Bloomberg, rupiah berada di posisi 17.881,5/dolar AS karena hanya terkoreksi 76,50 poin atau 0,43%.
Berdasarkan data analisis Doo Financial Futures, pelemahan rupiah ini dipicu oleh menguatnya kembali dolar AS akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dan solidnya data ekonomi AS.
Kondisi itu juga mendepresiasi mayoritas mata uang Asia lainnya, di mana Yen Jepang terhadap dolar AS melemah 0,03%; dolar Singapura terhadap dolar AS yang melemah 0,01%; won Korea melemah 0,22%; dolar Hong Kong melemah 0,01%; dolar Taiwan terhadap dolar AS terdepresiasi 0,07%; dan peso Filipina turut terdepresiasi 0,02%.
Yuan China terhadap dolar AS mengalami penguatan 0,03%; dan rupee India menguat 0,01%.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, sentimen utama pelemahan rupiah datang dari keputusan Iran untuk menghentikan komunikasi dan perundingan tidak langsung dengan Amerika Serikat.
Di saat yang sama, Teheran juga mengancam akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi jalur distribusi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Ketegangan geopolitik tersebut turut memicu lonjakan harga minyak dunia, dan berpotensi memperkuat tekanan inflasi global, serta meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama, faktor yang biasanya mendukung penguatan dolar AS terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor geopolitik, dolar AS juga memperoleh dukungan dari data sektor manufaktur AS yang menunjukkan kinerja lebih kuat dibandingkan ekspektasi pasar. Kombinasi data ekonomi yang solid dan meningkatnya permintaan aset aman membuat indeks dolar bergerak menguat di pasar global.
Di tengah sentimen tersebut, pelaku pasar juga mencermati perkembangan negosiasi antara Iran dan AS terkait konflik yang berlangsung di kawasan Timur Tengah. Ketidakpastian yang masih tinggi berpotensi menjaga volatilitas pasar keuangan global dalam jangka pendek.
"Secara teknikal, rupiah diperkirakan bergerak dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini," kata Lukman dikutip dari bisnis.com.
Hal itu, lanjut dia, sejalan dengan penguatan greenback di pasar global dan meningkatnya permintaan aset lindung nilai akibat risiko geopolitik yang kembali memanas. (man)







