Yogyakarta, Harian Umum - Universitas Gajah Mada (UGM) mengklaim punya 36 bukti bahwa ijazah mantan Presiden Joko Widodo alias Jokowi asli; akan tetapi ternyata zonk.
Hal itu diungkap Pakar Telematika Roy Suryo dan Presiden Alina Institute Tifauzia Tyassuma setelah bersama pakar Digital Forensik Rismon Hasiholan Sianipar bertemu dengan rektorat UGM dan 10 orang yang mengaku alumnus perguruan tinggi negeri itu, Selasa (15/4/2025).
Semula ketiga tokoh itu akan bertemu rektorat bersama Tim Pembela Ulama dan Aktivis (TPUA), akan tetapi karena tim yang dipresideni Eggie Sudjana itu terlambat tiba di UGM, karena ketika bus yang ditumpangi menuju UGM melaju di Tol Cipali, jalan tol itu sedang macet total akibat terjadinya tabrakan antara bus dengan truk pengangkut kawat, sehingga bus yang ditumpangi TPUA terjebak macet hingga 4 jam.
Akibatnya, TPUA tidak bisa tiba di UGM pada waktu yang ditetapkan UGM untuk pertemuan, yakni pukul 08:00 WIB.
Seperti diketahui, pertemuan itu untuk mengklarifikasi ijazah Jokowi yang diduga palsu.
"Kita pikir rektorat UGM telah siap ketika menerima kamu, tetapi ternyata tidak karena mereka tidak punya data sama sekali, bahkan klaim punya 36 bukti bahwa ijazah Jokowi asli, zonk, tidak ada sama sekali," kata Roy kepada media.
Ia menyebut, dalam.pertemuan itu ada 16 orang yang ia dan Tifauzia serta Rismon hadapi, di mana 10 di antaranya mengaku sebagai alumnus UGM, dan ke-10 alumnus itu membawa serta ijazah dan skripsinya.
Namun, Roy mengakui kalau suasana pertemuan agak panas dan berintonasi tinggi, sehingga ia sempat memberi isyarat kepada Tifauzia agar mereka walk out saja.
Namun, kata Tifauzia, di tengah perdebatan yang menjurus ke debat kusir itu, akhirnya mereka bisa memaksa rektorat agar memperlihatkan skripsi Jokowi yang saat itu juga diambil dari perpustakaan kampus.
Debat kusir terjadi, kata Tifauzia, karena .UGM tidak mampu menyampaikan argumen dan data sebagaimana halnya institusi akademisi.
"Sementara Doktor Rismon, Pak Roy Suryo dan saya saya membawa bukti-bukti ilmiah akademis," tegasnya.
Kemudian, setelah skripsi diambil dari perpustakaan, dan dipelajari, Roy dan Tifauzia mengaku menemukan keanehan sebagai berikut:
1. Tanggal pengesahan skripsi itu tidak ada
2. Tidak ada nama dosen penguji skripsi itu
4. Tidak ada nama Kasmudjo yang diklaim Jokowi sebagai dosen pembimbing skripsinya
5. Tidak ada jurusan
"Tapi saya ingat kalau Jokowi mengatakan bahwa dia kuliah di jurusan Teknologi Kayu, dan jurusan ini tidak ada di UGM," tegas Roy.
Tifauzia mengatakan, dalam pertemuan tersebut ia telah meminta UGM agar jangan menjadi pelindung orang yang bermasalah, dan jangan menutup-nutupi kejahatan yang dilakukan seseorang.
"Tadi dari UGM juga diwacanakan agar masalah ini dibawa ke pengadilan, akan tetapi saya bilang kalau pun masalah ini digulirkan di pengadilan, UGM harus bersama kami, bersama rakyat, untuk menghadapi yang bersangkutan," tegasnya.
Ada ratusan orang yang hadir di UGM hari ini. Selain dari TPUA, juga massa dari Aspirasi, Koalisi Nasional Perempuan Indonesia (KNPRI), dan Kagama (Keluarga Alumni Universitas Gajah Mada) dan Relagama (Relawan AMIN Alumni Universitas Gajah Mada). (rhm)


