Jakarta, Harian Umum - Aktivis 98, Dedy Arianto mengaku bakal ikut meramaikan bursa pencalonan Ketua Umum DPP Partai Golkar dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) untuk menggantikan ketua Umum partai Golkar, Setya Novanto yang saat ini sudah menjadi tersangka oleh KPK.
Alumni Universitas Trisakti itu mengaku inisiatifnya untuk maju sebagai Calon Ketua Umum DPP Partai Golkar karena ingin mengembalikan citra partai yang lebih baik lagi di masyarakat.
"Dengan mengucapkan Bismillahirrohmannirrohim, saya siap untuk maju menjadi Ketua Umum Partai Golkar yang akan diselenggarakan pada bulan Oktober 2017. Dan siap memimpin Partai Golkar ke arah yang lebih baik," ujar Dedy Arianto dalam deklarasinya di Warung aspirasi, Bulungan, Blok M , Kamis (14/9/2017).
Ia prihatin atas keadaan Partai Golkar yang saat ini dicitrakan partai korupsi. Padahal, Partai Golkar pasca reformasi harus memiliki paradigma baru yaitu partai yang menghilangkan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang terjadi sepanjang era Orde Lama dan Orde Baru.
"Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto telah ditetapkan sebagai Tersangka dalam kasus e-KTP, tapi hingga sekarang masih menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Ini sangat memalukan bagi Partai Golkar, belum lagi banyak terindikasi kader-kader partai Golkar yang sedang dibidik dengan kasus Korupsi," tandasnya.
Dedy Arianto adalah pendiri Organisasi Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (JARI) adalah salah satu Kader Muda Partai Golkar yang aktif hingga saat ini. Ia merupakan salah satu Deklarator Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) dan pernah menjabat sebagai Wasekjend SOKSI serta pengurus DPP Partai Golkar.
Sejumlah LSM Minta Setya Novanto di Tahan
Sejumlah elemen kemasyarakatan yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil Antikorupsi melakukan unjuk rasa di depan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kamis (14/9/2017). Mereka mendesak KPK untuk Segera menahan Setya Novanto.
Anggota Gerakan Antikorupsi Lintas Perguruan Tinggi, Bachtiar, dalam orasinya menyatakan mereka berkumpul di KPK untuk menyatakan kegeraman terhadap Novanto. Ketua DPR RI itu dianggap sebagai aktor yang bertanggung jawab atas kasus korupsi e-KTP.
"SN bagi kita bukan seorang koruptor biasa," kata Bachtiar.
Dia menyindir Novanto tak hadir di pemeriksaan KPK sebagai tersangka karena alasan sakit.
"Tiba-tiba enggak mau datang karena ada panggilan dari KPK. Kenapa, karena dia takut, takut ditahan, dan Takut mempertanggungjawabkan perbuatannya," ujar Bachtiar.
Dirinya meminta Novanto secara ksatria mempertanggungjawabkan perbuatannya, yaitu dengan mendatangi KPK.
"Jangan sakit," ujar dia.







