Jakarta, Harian Umum-Serangan politik semakin memanas setelah Calon Wakil Wali Kota Tangerang, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo (Sara) kembali mendapat serangan kotor. Sara mengaku mendapat pelecehan dalam kontestasi Pilkada Tangerang Selatan (Tangsel) 2020 dari rivalnya, yakni pasangan calon Siti Nur Azizah-Ruhamaben dan Benyamin Davnie - Pilar Saga.
"By using "mirroring hypothesis" approach, Kandidat Walikota adalah product dari refleksi voter-nya. Nasib Tangsel akan ngga karuan apabila Calon Walikota yang didukung massa brutal berhasil menang," ujar aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (Komtak), Zeng Wei Jian dalam keterangannya, Kamis (29/10).
Menurutnya, foto Sara yang tengah hamil itu diunggah Akun Facebook Bang Djoel yang merupakan follower Benyamin Davnie - Pilar Saga. Pria yang akrab disapa Ken-Ken ini memastikan sosok Sara yang juga seorang seniman penuh dengan cinta seni dan perasaannya halus.
"Pose "Steatopygian Venus figurine". Mengagungkan peran Sang Ibu; The birth giver. Carl Gustav Jung berpendapat penghormatan terhadap "archetypal mother" merupakan "collective unconscious" semua manusia," katanya.
Penghormatan itu, lanjutnya, bisa ditemukan pada artifact figurative art yang menggambarkan seorang ibu. Misalnya "Venus of Hohle Fels" yang berusia 35 ribu tahun, Seated Woman of Çatalhöyük, dan Venus of Monruz. Ketiga artifact berasal dari Era Upper Paleolithic atau Late Stone Age. Tua sekali.
"Helen Benigni, in her book "Emergence of the Goddess", menyatakan desain konsisten artifact seperti featureless, payudara besar dan figur perempuan hamil yang ditemukan di seluruh dunia merupakan representasi dari "an archetype of a female Supreme Creator"," jelasnya.
Masyarakat Korea Selatan juga, ungkapnya, punya Dewi Jang Gil-ja (어머니 하나님) sebagai "God the Mother". Padanan Dewi Sri of Javanesse islanders. Mother goddes Parvati representasi aspek feminine dan shakti (power/energy-creative force). Mother Earth alias Ibu Pertiwi adalah pelengkap konsep "Sky Father".
"Politik Pilkada Tangsel mengubah Penghormatan kepada Sang Ibu jadi status pelecehan sexist. Lupa surga ada di telapak kaki ibu. Kehadiran Rahayu Saraswati di Bursa Pilkada Tangsel adalah melanjutkan perjuangan kakek-pamannya. Bukan untuk mempertahankan "Dinasti Korupsi". Apalagi sekedar mengkapitalisasi jabatan bapak," jelasnya.
Sebelumnya, viral foto Sara yang tengah berpose dalam keadaan hamil dengan takarir gambar bernarasi pelecehan.
"Yang mau coblos udelnya silakan. Udel dah diumbar. Pantaskah jadi panutan apalagi pemimpin Tangsel??" tulis akun Facebook bernama Bang Djoel.
Unggahan itu pun kemudian viral di media sosial setelah Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Tsamara Amany membagikan kiriman itu di akun pribadi Twitter.
"Mbak @RahayuSaraswati keliling Tangsel kampanye program. Dan orang ini lebih tertarik membahas udel? Kalau foto kehamilan dijadikan alat pelecehan, yang bermasalah pasti otak pelaku pelecehan," tulis Tsamara.
Lebih lanjut Tsamara meminta pasangan calon nomor urut satu dan dua untuk menertibkan pendukungnya agar tidak melakukan tindakan tersebut.
"Setelah paha mulus, kini coblos udel. Kandidat no 2 & 3 harus tertibkan pendukungnya," tambahnya. (hnk)







