Jakarta, Harian Umum - Pakar Politik dan Pemerintahan Ryaas Rasyid menyarankan Prabowo Subianto agar Capres nomor urut 02 itu menolak menjadi presiden dari hasil Pilpres 2024 yang curang.
Hal itu dikatakan Ryaas dalam podcast dengan mantan Ketua KPK Abraham Samad yang videonya diunggah di akun YouTube Abraham Samad SPEAK UP, Minggu (25/2/2024).
Video itu diberi judul "Ryaas Rasyid: Aktor Kecurangan Pilpres Harus Ditangkap! Hak Angket Jalan Pemakzulan".
“Kecurangan Pemilu 2024 terjadi secara terstruktur, sistematis, dan massif (TSM) di setiap tahapan Pemilu, secara transparan telah diketahui publik, sehingga legitimasi atas hasil Pemilu 2024 pantas digugat dan ditolak,” kata Ryaas seperti dikutip Senin (26/2/2024).
Ia menegaskan, konsekuensi dari Pemilu yang curang dan kecurangannya diketahui secara terbuka oleh masyarakat adalah menghasilkan pemimpin yang tidak mempunyai basis moral secara etika, politik maupun legitimasi.
"Kalau saya jadi Prabowo, saya akan umumkan di hadapan publik bahwa saya tidak mau jadi presiden dari hasil Pemilu yang curang," katanya.
Ryaas meyakini, jika Prabowo memiliki karakter pemimpin yang berjiwa negarawan, tak akan mungkin mau menjadi presiden dari Pilpres yang dinyatakan curang dan diketahui oleh rakyat yang akan dipimpinnya.
"Kita sudah lihat di mana-mana, kecurangan Pemilu terbuka dan publik tahu itu. Jadi, kalau Prabowo punya moral, harus jujur kepada dirinya sendiri dan jujur kepada rakyat. Beliau harus mengatakan kepada rakyat bahwa saya tidak mau jadi produk dari pemilihan yang curang," imbuh Ryaas.
Ia menyebut, hal itu harus disampaikan Prabowo mengingat partai yang dipimpinnya, yakni Gerindra, juga beberapa partai pengusung pasangan calon (Paslon) 02, juga menyebut ada kecurangan pada Pemilu 2024.
Ketika Paslon 01 dan Paslon 03 meminta kecurangan Pemilu diusut, langkah yang sama seharusnya dilakukan juga oleh Paslon 02, karena sama-sama mengikuti kontestasi Pilpres 2024.
"Makanya, seharusnya ada keluar pernyataan dari Prabowo untuk menolak kecurangan dan minta supaya kecurangan itu diusut. Tegaskan bahwa kami mau menang secara bersih. Jangan sampai ada kesan, maaf ya, seolah-olah Prabowo menikmati kecurangan ini dan siap jadi presiden dari Pemilu yang curang dan diketahui luas oleh rakyat," ungkap Ryaas..
Meski demikian, Ryaas mengakui bahwa sebenarnya dalam berbagai penyelenggaraan Pemilu selalu ada kecurangan, tetapi tidak pernah ada yang berlangsung secara terstruktur, sistematis, dan masif bahkan terang-terangan dan seolah-olah dibiarkan oleh penyelenggara dan pengawas Pemilu seperti pada Pemilu 2024.
Menurut Ryaas, Prabowo sebenarnya adalah korban dari konspirasi kecurangan Pemilu 2024 yang didalangi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan dieksekusi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Pada tahun 2019, lanjutnya, Jokowi juga telah melakukan kecurangan Pemilu yang membuat Prabowo tak terpilih menjadi presiden, meskipun hasilnya dilakukan dengan permainan yang halus, tidak terang-terangan seperti pada Pemilu 2024.
"Kasihan Beliau (Prabowo). Hanya untuk meloloskan putra mahkota, Gibran Rakabuming Raka, untuk menjadi wakil presiden, Jokowi menjadikan Prabowo sebagai korban dari konspirasi kecurangan pemilu yang disebut TSM," tutur Ryaas.
Ryaas mengaku pernah bicara dengan Prabowo soal hasil pemilu 2019 dan Prabowo mengakui merasa dicurangi Jokowi, yang sudah mengendalikan seluruhnya, termasuk KPU.
"Saya buka sekarang karena kita perlu angkat kebenaran ini. Saya pernah bicara dengan Pak Prabowo, saya bilang Bapak sadar enggak kalau tahun 2019 itu bapak menang Pemilu, tapi dicurangi? Dia bilang, iya saya tahu. Jadi, Prabowo itu bukan tidak tahu kalau itu dicurangi, dia paham. Pertanyaan moralnya sekarang, apakah Beliau mau menang dengan cara yang sama dengan yang dilakukan oleh lawannya dulu? tidak elok lah, tidak elegan," tegas Ryaas.
Karena hal tersebut, Ryaas dengan tegas, mengimbau Prabowo untuk mengeluarkan pernyataan yang menunjukkan kualitas dirinya sebagai pemimpin yang memiliki moral dan etika.
Sebab, kata Ryaas, dengan usianya saat ini, Prabowo seharusnya dapat menikmati hidup yang lebih tenang, bukan masuk lagi dalam perangkap kejahatan dan menjadi bagian dari hal itu hanya untuk kekuasaan yang sementara.
"Jadi saya mengimbau Pak Prabowo harus mengeluarkan pernyataan, Saya tidak mau menang melalui kecurangan karena terbukti kecurangan terjadi dan disusun sedemikian rupa sehingga terstruktur, sistematis, dan masif," ujar Ryaas.
Ryaas menilai, Prabowo Subianto sama seperti Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, yakni sama-sama menjadi korban dari kecurangan Pemilu yang di-setting untuk membawa Gibran Rakabuming Raka masuk ke istana. (man)







