Jakarta, Harian Umum - Netizen mencurigai kasus penembakan saat Presiden AS Donald Trump menggelar acara makan malam bersama wartawan di Washington Hotel, Washington DC, Sabtu (25/4/2026) malam merupakan operasi false flag atau bendera palsu.
Kecurigaan itu mengemuka karena si pelaku penembakan yang diidentifikasi bernama Cole Allen (31), warga Torrance, California, tertangkap basah pernah memposting foto di mana dia mengenakan kaos IDF (Israel Defense Forces).
Foto itu diposting di akun Instagram-nya, tapi kini telah dihapus.
'Foto Instagram pelaku penembakan Gedung Putih, Cole Allen, terlihat mengenakan kaus IDF sebelum fotonya dihapus," kata pemilik akun X @DailyNewsIran dikutip Senin (27/4/2026). (Lihat foto utama).
"Pelaku penembakan, Cole Allen, terlihat dalam sebuah unggahan Instagram mengenakan kaus IDF. Pelaku penembakan tampaknya adalah pendukung pro-Trump yang kurang waras," sindir @24_70xu.
Seorang netizen mempertanyakan kebenaran foto itu kepada aplikasi Grok, dan inilah jawabannya:
"**Ya.** Berbagai media dan reporter (termasuk Kolumnis Fox News/NY Post Karol Markowicz, Laura Loomer, dan lainnya telah mengidentifikasi tersangka yang ditahan sebagai Cole Tomas Allen, 31 tahun, dari Torrance, CA. Pihak berwenang mengkonfirmasi bahwa pria tersebut berasal dari California; Trump membagikan foto-foto penangkapan di Washington Hilton. Seorang petugas terluka tetapi diperkirakan akan pulih. Tidak ada tamu yang terluka. Gambar kaus IDF tersebut berasal dari Instagram-nya (yang sekarang sudah dihapus)".
Lebih jauh, pemilik akun @24_70xu menuding penembakan itu merupakan operasi Mossad dan CIA agar Trump mendapat simpati publik AS , karena Trump sedang disorot akibat tindakannya menyerang Iran bersama Israel.
"Apa yang terjadi hari ini (kemarin, red) di Gedung Putih mungkin merupakan operasi yang direncanakan oleh Mossad dan CIA untuk mendapatkan simpati rakyat Amerika untuk perang melawan Iran. Anda akan segera melihat, pemerintahan Trump akan menyalahkan Iran," katanya.
Hal senada dikatakan @DailyNewsIran.
"Washington, D.C., menyusul upaya pembunuhan terhadap Trump. Mereka akan menyalahkan Iran, tetapi sebenarnya Israel yang menyuruh mereka untuk tidak membuat kesepakatan," katanya.
Kesepakatan dimaksud adalah kesepakatan gencatan senjata yang perundingannya dilakukan AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, pada 11-12 April lalu. Kesepakatan itu gagal karena awalnya Trump setuju pada 10 syarat yang diajukan Iran, akan tetapi saat berunding bersikap sebaliknya, bahkan mengajukan permintaan yang dinilai Iran berlebihan.
Konon, perubahan sikap AS itu karena sebelum perundingan berlangsung, PM Israel Benjamin Netanyahu menelepon Trump
Lebih jauh, pemilik akun @RealAllVoice mengungkap kecurigaan kalau Allen adalah orang yang direkrut IDF untuk melakukan operasi penembakan itu.
"Sebuah foto yang memperlihatkan si penembak, Cole Allen, mengenakan kaos IDF (Israel Defense Forces). Data juga menunjukkan namanya menjadi tren di Israel pada bulan Februari. Ini mengubah segalanya. Jika tujuannya adalah untuk menyalahkan Iran, mengapa dia mengenakan perlengkapan saingan mereka? Lonjakan pencarian di Israel beberapa minggu yang lalu menunjukkan bahwa dia sudah berada dalam radar seseorang. Ini sedikit terlihat seperti tindakan acak dan lebih seperti jebakan untuk menghentikan AS dari membuat kesepakatan perdamaian. Pertanyaan sebenarnya adalah: Apakah foto ini membuktikan penembakan itu adalah "bendera palsu" untuk melanjutkan perang?" katanya.
Pemilik akun @RyanRozbiani bahkan mengungkap kalau 12 jam sebelum penembakan itu, warga Israel mencari nama Cole Allen di Google, seolah Allen merupakan sosok yang sangat penting
"Mengapa orang-orang di Israel mencari Cole Allen pada pukul 7:00 pagi EST, hampir 12 jam sebelum Upaya Pembunuhan Trump?" tanyanya sambil memposting grafik pencarian nama Cole Allen yang diambil dari Google Trends.
Diberitakan sebelumnya, saat Donald Trump makan malam dengan wartawan di Washington Hotel, Washington DC, Sabtu (25/4/2026) malam waktu setempat, terjadi penembakan.
Dinas Rahasia mengatakan penembakan itu terjadi di "area pemeriksaan" dan satu orang telah ditahan.
"Kondisi mereka yang terlibat belum diketahui, dan penegak hukum sedang aktif menilai situasi," kata badan tersebut.
Sebelum konferensi pers atas kejadian itu, Trump memposting gambar di Truth Social yang menunjukkan tersangka penembakan tergeletak di tanah, serta cuplikan video pengawasan yang menunjukkan seorang pria berlari melewati petugas keamanan, yang kemudian mengeluarkan senjata mereka dan melepaskan tembakan.
Beberapa media AS mengidentifikasi tersangka sebagai Cole Tomas Allen (31) dari Torrance, California.
Saat konferensi pers, Trump mengatakan bahwa seorang pria bersenjata dengan beberapa senjata telah menyerbu pos pemeriksaan keamanan dan "dilumpuhkan" oleh Secret Service.
Trump menggambarkan tersangka sebagai "orang yang sangat sakit" dan "preman" yang telah menyerang Konstitusi AS.
Seorang petugas Secret Service tertembak dalam serangan itu, tetapi ia selamat berkat rompi anti peluru yang dikenakannya dan dalam keadaan baik.
"Seperti yang Anda ketahui, ini bukan pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir republik kita diserang oleh calon pembunuh yang berusaha membunuh," kata Trump dikutip dari Al Jazeera, Minggu (26)4/2026).
"Mengingat peristiwa malam ini, saya meminta semua warga Amerika untuk berkomitmen kembali dengan sepenuh hati dalam menyelesaikan perbedaan kita secara damai," imbuhnya.
Ketika ditanya seorang reporter apakah ia percaya dirinya adalah target serangan itu? Trump menjawab: "Aku rasa begitu".
Tak ada yang terluka dalam insiden itu, baik Trump, Ibu Negara Melania Trump, maupun anggota kabinet yang hadir. (rhm)


