Jakarta, Harian Umum - Nilai tukar rupiah meneruskan pelemahannya pada perdagangan Rabu (17/6/2026), setelah ditutup terkoreksi 19 poin pada perdagangan Selasa (16/6/2026), dan jatuh ke level Rp17.725/dolar AS.
Pada hari ini, Rabu (17/6/2026), rupiah sudah berada di zona merah pada pembukaan perdagangan karena terkoreksi 28 poin atau 0,16% dan berada di Rp17.753/dolar AS.
Rupiah sempat mencoba bangkit, akan tetapi saat perdagangan ditutup, menurut data Bloomberg, rupiah terpantau berada di Rp17.762/dolar AS karena terpuruk 37 poin atau 0,21%.
Kurs rupiah Jisdor hari ini, menurut data Bank Indonesia, juga melemah dengan berada di Rp17.753/dolar AS karena terkoreksi 34 poin atau 0,19%.
Menurut pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi, pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen eksternal dan domestik yang masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Dari eksternal, pasar mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran setelah muncul optimisme terkait kesepakatan yang bertujuan meredakan konflik di Timur Tengah.
"Kesepakatan tersebut, yang mencakup ketentuan yang memungkinkan Iran untuk melanjutkan ekspor minyak dan memperpanjang gencatan senjata sementara negosiasi berlanjut," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Rabu.
Meski demikian, ketidakpastian masih tinggi karena proses pemulihan produksi energi diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Selain itu, sikap Israel yang belum sepenuhnya mendukung kesepakatan AS-Iran menimbulkan keraguan terhadap keberlanjutan gencatan senjata.
Pelaku pasar juga menanti hasil rapat kebijakan bank sentral AS atau The Fed.
The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya, namun investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan arah kebijakan moneter ke depan, termasuk peluang penurunan suku bunga pada akhir tahun.
"Bank sentral secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tidak berubah, tetapi investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan apa yang disebut 'plot titik' untuk petunjuk tentang jalur kebijakan di masa depan. Pasar sangat sensitif terhadap sinyal apa pun tentang apakah para pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk pelonggaran di akhir tahun ini," jelas Ibrahim.
Dari dalam negeri, perhatian pasar tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 17-18 Juni 2026.
RDG kali ini menjadi sorotan setelah BI dalam beberapa kesempatan terakhir menaikkan suku bunganya atau BI Rate untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal.
Ibrahim menilai langkah pengetatan kebijakan moneter tersebut menunjukkan komitmen BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar.
Selain itu, Indonesia dinilai relatif lebih siap menghadapi potensi gangguan pasokan energi dari Timur Tengah karena telah melakukan diversifikasi sumber impor minyak mentah melalui kontrak jangka panjang dengan sejumlah negara pemasok lain.
"Langkah diversifikasi sumber pasokan minyak dilakukan untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus mengurangi risiko gangguan pasokan akibat dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Dengan strategi tersebut, Indonesia memiliki alternatif sumber impor minyak untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," kata Ibrahim.
Untuk perdagangan Kamis besok (18/6/2026), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif, namun berpotensi ditutup melemah dalam kisaran Rp17.760-Rp17.800dolar AS.
Setelah kenaikan suku bunga 75 basis points dalam dua bulan terakhir, pelemahan kurs rupiah sedikit mereda, sehingga kebutuhan untuk memberikan imbal hasil tinggi mulai berkurang. (man)







