Jakarta, Harian Umum - Kurs rupiah masih melanjutkan pelemahannya pada penutupan perdagangan Senin (29/4/2024).
Data Bloomberg menunjukkan, kurs rupiah terkoreksi 45 poin atau 0,28% ke level Rp16.255/dolar AS.
Ini merupakan koreksi dalam tiga hari beruntun, setelah pelemahan pada perdagangan Kamis dan Jumat pekan lalu.
Di sisi lain, menurut Investing, indeks dolar AS (DXY) pada saat penutupan pasar keuangan di Indonesia pukul 15:00 WIB, terpantau turun 0,31% ke level 105,61.
Sebelumnya, Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies) Anthony Budiawan mengatakan, tren pelemahan rupiah saat ini dipicu oleh sikap investor yang tidak lagi tertarik kepada Indonesia, sehingga berbondong-bondong meninggalkan Indonesia, dan melakukan divestasi, bahkan menjual saham serta obligasi.
"Tekanan terhadap ekonomi Indonesia dan kurs rupiah masih kuat, tepatnya semakin kuat. Intervensi kurs rupiah oleh Bank Indonesia nampaknya tidak efektif mengangkat nilai rupiah yang masih bercokol di atas Rp16.200/dolar AS," kata Anthony seperti dikutip dari siaran tertulisnya, Minggu (28/4/2024).
Ia menyebut, kebijakan Bank Indonesia yang “terpaksa” menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 persen, menjadi 6,25 persen, merupakan hal yang telah dapat diduga.
Namun, kata dia, upaya ini masih belum mampu membuat kurs rupiah menguat.
"Kurs rupiah hanya naik sedikit, untuk kemudian turun lagi di atas Rp16.200/dolar AS," katanya.
Anthony menyebut, pangkal masalahnya adalah investor asing saat ini sedang tidak tertarik dengan Indonesia, sehingga ada yang meninggalkan Indonesia, melakukan divestasi atau justru menjual assetnya, baik yang dalam bentuk obligasi maupun saham.
Anthony mencatat, sepanjang triwulan I-2024, cadangan devisa sudah anjlok 6 miliar dolar AS atau hampir Rp100 triliun.
"Namun, tekanan terhadap kurs rupiah masih terus berlanjut di awal kuartal II-2024 ini. Hanya 4 hari dalam minggu ini saja, 22-25 April 2024, investor asing menjual surat berharga negara senilai Rp2,08 triliun, dan menjual saham senilai Rp2,34 triliun," katanya.
Ia meyakini, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia menjadi 6,25 persen akan menekan pertumbuhan ekonomi, sehingga investasi dan konsumsi masyarakat akan melambat.
Dari faktor eksternal, pelemahan rupiah dipicu pesimisme pelaku pasar mengenai kebijakan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed), dan ketegangan geopolitik yang dipicu serangan Iran ke Israel pada 13-14 April 2024, dan dibalas Israel.
Pasar semakin pesimis mengenai pemangkasan suku bunga di AS setelah data terbaru pengeluaran pribadi warga AS atau Personal Consumption Expenditures (PCE) masih kencang. (man)






