Bogor, Harian Umum - Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan berupaya mempertahankan koalisi keumatannya dengan Gerindra dan PAN agar tidak pecah.
Hal ini terungkap saat Muhammad Nur Sukma, calon walikota (Cawalkot) Bogor dari Partai Gerindra untuk pemilihan walikota (Pilwalkot Bogor 2018), sowan ke DPP PKS di Jalan TB Simaptupang, Jakarta Selatan, Jumat (29/12/2017), dan bertemu Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri.
"Intinya, (pertemuan itu) dalam rangka mengokohkan Koalisi Keummatan PKS Gerindra dan PAN di seluruh Indonesia, khususnya Pulau Jawa dan (Kota) Bogor, sehingga siapapun yang menjadi Walkot dan wakilnya, yang penting koalisi tidak pecah" jelas politisi yang akrab disapa Kang Sukma itu kepada harianumum.com melalui pesan WhatsApp, Sabtu (30/12/2017).
Kang Sukma mengakui, Salim Segaf sangat berterima kasih atas kunjungannya itu, dan juga masukan-masukan yang diberikan.
"Beliau mengatakan, PKS bersama koalisi keummatannya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga persatuan dan keutuhan koalisi demi kemenangan bangsa Indonesia di (Pilkada serentak) 2018 maupun (di Pileg dan Pilpres) 2019 nanti. Insya Alloh," imbuhnya.
Calon walikota yang juga Wakil Ketua Majelis Syuro Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (DDII) Kota Bogor itu menegaskan, dirinya dan Salim Segaf sepakat bahwa persatuan dan kemenangan umat jauh lebih penting dari kepentingan apa pun
Seperti diketahui, PKS menjalin koalisi dengan PAN dan Gerindra untuk menghadapi Pilkada serentak di lima provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Maluku Utara (Malut), Sumatera Utara dan Kalimantan Timur.
Sebagai bentuk keseriusan dalam koalisi itu, PAN dan PKS telah menarik dukungan untuk Wagub Jabar Deddy Mizwar (Demiz) dan beralih mendukung Sudrajat yang diusung Gerindra sebagai cagub di Pilkada Jabar 2018.
Tak hanya itu, PKS dengan didukung PAN juga membatalkan pencalonan Ahmad Syaikhu sebagai cawagub Demiz di Pilkada Jabar, dan menyandingkannya dengan Sudrajat.
PKS, PAN dan Gerindra agaknya ingin mengulang sukses Pilkada DKI 2017 yang berhasil mendudukkan Anies-sandi sebagai DKI 1 dan 2 setelah mengalahkan Ahok-Djarot yang diusung PDIP, Hanura, NasDem, PPP, dan Golkar. (rhm)






