Teheran, Harian Umum - Parlemen Iran membongkar kebusukan di balik upaya Amerika Serikat (AS) mengajak negosiasi untuk menghentikan perang.
Apa yang dipahami Iran inilah yang membuat Negeri Para Mullah itu tak ingin melanjutkan perundingan dengan AS. Apalagi karena serangan balasan Iran atas serangan AS dan Israel sejak 28 Februari lalu, menempatkan Iran pada posisi di atas angin.
Melalui unggahan di platform X, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan, Presiden AS Donald Trump berupaya memanipulasi proses negosiasi.
“Dengan memberlakukan blokade dan melanggar gencatan senjata, Trump berupaya mengubah meja negosiasi menjadi meja penyerahan diri atau untuk membenarkan dimulainya kembali permusuhan, sesuai keinginannya,” kata dia dikutip dari Al Mayadeen, Selasa (21/4/2026).
Dalam sebuah wawancara dengan televisi pemerintah Iran, Ghalibaf bahkan menyebut Trump sebagai "Master of Lies atau pakar kebohongan".
Ia memastikan bahwa Iran belum membuat keputusan akhir tentang hadir tidaknya di putaran kedua negosiasi yang tetap dilangsungkan di Islamabad itu, meski tahu Trump telah mengirimkan wakilnya, yakni JD Vance, untuk hadir di Islamabad.
"Karena kami juga menolak negosiasi yang dilakukan di bawah ancaman," katanya.
Ia menuduh AS telah menggunakan periode gencatan senjata untuk mempersiapkan diri menghadapi potensi eskalasi dan telah menyiapkan kartu baru untuk diungkapkan di medan perang.
"Amerika berupaya memanfaatkan upaya diplomatik yang sedang berlangsung untuk memaksakan persyaratannya atau membuka jalan bagi agresi baru terhadap Iran," tegasnya.
Seperti diketahui, kegagalan negosiasi di Islamabad pada 11 April membuat AS memblokade arus maritim Iran, dan tidak membukanya meski Iran kemudian membuka Selat Hormuz setelah terjadi gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel.
Bahkan, dengan dalih melanggar blokade, AS menembak kapal kargo Touska milik Iran dan menyitanya pada Minggu (19/4/2026), karena berlayar di Laut Oman dari China menuju Iran.
Serangan ini membuat Iran mendidih Apalagi Trump juga mengancam bahwa jika negosiasi kedua gagal, AS akan menghancurkan insfratruktur Iran, termasuk jembatan. Iran pun menyadari, di tengah proses negosiasi, AS makin memperkuat kekuatannya di Timur Tengah untuk menyerang lagi negaranya dengan kekuatan yang lebih dahsyat. (man)





