Jakarta, Harian Umum- Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (Katar), Sugiyanto, mengapresiasi keputusan Sandiaga Uno untuk mundur dari Partai Gerindra, baik sebagai kader maupun dari jabatan wakil ketua Dewan Pembina, agar dapat mendampingi Prabowo Subianto dalam kontestasi Pilpres 2019.
"Kalau dia tidak mundur, maka akan menjadi masalah dengan PKS dan PAN sebagai mitra koalisi Gerindra, karena Prabowo merupakan ketua umum Partai Gerindra. Dengan mundur, maka Sandi berada dalam posisi netral atau independen, sehingga bisa diterima PKS dan PAN," katanya kepada harianumum.com di Jakarta, Sabtu (11/8/2018).
Aktivis yang akrab disapa SGY ini juga mengapresiasi langkah Sandi untuk mundur dari jabatan wakil gubernur DKI Jakarta, meski sebenarnya, bila mengacu pada UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, dia tidak perlu mundur karena pasal 170 ayat (1) UU tersebut memperbolehkan pejabat negara seperti wakil gubernur, dicalonkan oleh Parpol peserta Pemilu.
"Yang harus dia lakukan jika tidak mundur adalah mengajukan cuti saat akan berkampanye sebagaimana diatur pada pasal 31 ayat (1) PP Nomor 32 Tahun 2018," imbuhnya.
SGY menilai, agaknya ada beberapa alasan mengapa Sandi melakukan langkah sedrastis itu. Selain karena Sandi mengatakan bahwa dia tak ingin menggunakan fasilitas dan uang negara untuk meraih ambisi politiknya, juga karena politisi yang juga pengusaha ini agaknya tak tak ingin terbebani oleh apa pun saat menjalani kampanye bersama Prabowo.
"Dia agaknya ingin fokus untuk memenangi pertarungan kontra Jokowi-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019, karena setahu saya dia selain sosok yang enejik, juga mobilitasnya tinggi sekali. Waktu kampanye Pilkada Jakarta 2017 lalu, saat berduet dengan Anies Baswedan, dia berkampanye di hampir semua wilayah di Jakarta, sehingga elektabilitas dirinya dan Anies melonjak dengan cepat, dan mampu mengalahkan Ahok-Djarot yang digadang-gadang hampir semua media dan lembaga survei akan menjadi pemenang Pilkada itu," jelasnya.
Selain hal tersebut, lanjut mantan Presidium Relawan Anies-Sandi (PRASS) ini, Sandi juga figur yang tidak setengah-setengah dalam bekerja.
"Mungkin itu juga yang mendorong dia untuk melepas jabatan Wagub," tegasnya.
Ketika ditanya bagaimana peluang Prabowo-Sandi (PAS) untuk memenangi Pilpres 2019? SGY mengatakan sangat besar, karena sebagai pengusaha, Sandi memiliki jaringan yang sangat kuat, dan jaringannya itu tentu yakin bahwa jika PAS menang, kondisi perekonomian akan membaik.
"Saat ini pengusaha merasakan betul sulitnya berbisnis akibat rupiah yang terus melemah, daya beli masyarakat yang menurun, produk impor yang terus membanjiri dalam negeri ...., sehingga mereka butuh pemimpin baru yang dapat mengatasi kondisi ini, karena pemimpin yang sekarang dianggap tak mampu, bahkan dianggap sebagai penyebab kondisi ini," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa yang paling menguntungkan PAS saat ini adalah, meski Cawapres Jokowi seorang ulama, namun ulama-ulama yang kata-katanya didengar umat Islam Indonesia, seperti Habib Rizieq Shihab dan Ustad Abdul Somad, ada di pihak PAS.
"Kalau mereka turun untuk mengampanyekan PAS, suara umat Islam tidak kemana-mana, semuanya untuk PAS. Kecuali JIL dan Syiah yang sejak awal memang menjadi penyokong Jokowi," pungkasnya. (rhm)







