Jakarta, Harian Umum- Desa Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, Sulawesi Tengah, akan dijadikan tempat pemakaman massal korban gempa berskala 7,4 SR yang mengguncang Kota Palu dari titik kordinat 0.18 LU - 119.85 BT pada kedalaman 10 Km yang berjarak 27 Km timur laut Donggala, pada 28 September 2018 pukul 17:02 WIB.
Dari 13.000 warga yang bermukim di desa ini, hampir separuhnya menjadi korban gempa, namun 500 orang di antaranya ditengarai masih terkubur lumpur yang membenamkan desa itu, dan belum dapat dievakuasi.
"Ada sekitar 13.000 jiwa di Desa Balaroa dengan jumlah KK (kepala keluarga) antara 500-800 KK. Sebagian menjadi korban gempa dan lumpur, tapi yang jenazahnya belum ditemukan, sehingga belum dapat dievakuasi sekitar 500 orang," ujar Lurah Balaroa, Rahmatsyah, kepada TVOne, Selasa (9/10/2018).
Ia menambahkan, berdasarkan rapat di kantor Gubernur Sulteng, ditetapkan batas akhir pencarian korban pada Kamis (12/10/2018). Jika hingga hari itu jenazah tak juga ditemukan, maka wilayah Desa Balaroa yang seluas sekitar 100 hektare, akan dijadikan tempat pemakaman massal para korban.
"Nanti di situ akan dibangun RTH (ruang terbuka hijau) dan monumen untuk mengenang para korban," katanya.
Untuk diketahui, saat gempa 7,4 mengguncang dari Donggala, Desa Balaroa menjadi salah satu desa di Sulteng yang mengalami fenomena likuifaksi, yakni tanah yang muncul ke permukaan dalam bentuk lumpur akibat adanya tekanan gempa.
Rahmat menjelaskan, akibat fenomena ini bukan hanya sebagian wilayah Balaroa terkubur lumpur, namun tanah pun bergeser sejauh 200-300 meter dan di beberapa titik ada yang amblas hingga 8-10 meter, serta ada yang terangkat hingga beberapa meter.
Kondisi yang porak poranda ini, imbuh dia, membuat pencarian para korban sulit dilakukan, sehingga jika tidak segera dijadikan tempat pemakaman massal, dikhawatirkan bau yang bersumber dari mayat yang belum ditemukan, dapat menimbulkan penyakit.
Ketika ditanya apakah warga yang selamat tidak keberatan desanya dijadikan tempat pemakaman massal? Rahmat mengatakan tidak.
"Warga yang selamat justru tidak mau lagi tinggal di situ karena trauma dan karena kondisinya yang porak poranda. Mereka akan dicarikan tempat tinggal baru yang posisinya di atas Balaroa (di dataran tinggi yang posisinya lebih tinggi dari Balaroa, red)," katanya.
Seperti diketahui, gempa 7,4 SR yang berpusat di Donggala tak hanya memicu tsunami yang menerjang wilayah kabupaten itu, dan kota Donggala, namun juga memicu munculnya fenomena Likuifaksi. Para geolog menjelaskan, fenomena ini terjadi karena lapisan tanah di Palu terdiri dari pasir, sehingga ketika gempa kuat mengguncang, air di bawah lapisan itu naik bersama pasir dan lumpur di bawahnya.
Selain Balaroa, Desa Jonooge di Kecamatan Borimaru dan Desa Petobo di Kecamatan Palu Selatan, juga lenyap akibat fenomena ini. Di Petobo, menurut BNPB, ada 744 rumah yang ditenggelamkan lumpur likuifaksi. (rhm)







