Jakarta, Harian Umum - Menjelang pelaksanaan Pemilu 2019, kampanye hitam kian masif. Salah satunya, diterbitkan dalam bahasa Inggris jejak capres yang berisi konten negatif untuk capres nomor urut 02 Prabowo-Sandi. Brosur ini ditemukan di minimarket-minimarket.
Di brosur tersebut dituliskan biodata masing-masing capres-cawapres. Nama masing-masing kandidat, tempat tanggal lahir, latar belakang, dan nama ayah dan ibu serta saudara sekandung.
Setelah itu, baru. Dan masing-masing kandidat capres-cawapres. Sayangnya, sangat negatif untuk paslon nomor urut 02.
Pada rekam jejak Capres Prabowo disebutkan ; tidak bisa jadi imam sholat, jarang sholat Jumat, menolak tantangan Dai Aceh untuk tes membaca Al quran ; dekat dengan sebagian tokoh Islam yanh radikal dan berhubungan dengan ISIS yang tidak cinta tanah air; berasal dari keluarga kaya dan bapaknya pernah terlibat pemberontakan PRRI/Permesta, mertuanya banyak terlibat kasus korupsi; menyebarkan semangat pesimis, Indonesia akan hancur.
Hal sama juga terjadi pada cawapres. Untuk cawapres nomor urut 01 Ma'ruf Amin, isinya semua positif. Sebaliknya untuk Sandiaga Uno bernada negatif.
Sementara untuk paslo nomor urut 01 Jokowi, disebutkan Islamnya kafah, taat ibadah, rajin puasa, tidak pernah meninggalkan sholat Jumat, bisa baca Al quran; dekat dengan ulama dan berasal dari keluarga sederhana dan tidak memiliki latar belakang korupsi.
Menanggapi beredarnya brosur tersebut, Ketua Umum Badan Pemuda Nasional Indonesia, Hilman Firmansyah dalam keterangan tertulisnya, Kamis (28/3), mengatakan isi brosur tersebut tidak adil dan perlu negatif pada capres Prabowo-Sandi
"Brosur ini berisi dua profil capres yang berkompetisi pada pilpres 2019. Sayangnya, isinya tidak adil," katanya.
Dari semua isi brosur, Hilman dipertimbangkan tidak ada yang sesuai fakta. "Seperti halnya Prabowo, tidak bisa menjadi Imam Sholat, faktanya, Prabowo menang yang menjadi Imam Sholat adalah yang membantah betul agama," jelasnya. (Zat)







