Teheran, Harian Umum - Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerah, mereka akhirnya sepakat dengan iran bahwa gencatan senjata juga meliputi Lebanon
Sebelumnya, Israel menolak Lebanon masuk dalam kesepakatan gencatan senjata, dan membombardir negara itu sebelum gencatan senjata resmi ditandatangani dalam perundingan yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026
Penolakan ini pula yang membuat perundingan tersebut gagal. Apalagi karena meski AS semula setuju Lebanon masuk dalam kesepakatan gencatan senjata, kemudian berbalik arah dan mengambil sikap yang sama dengan Israel.
Hal lain yang membuat perundingan itu gagal adalah karena menurut Iran, AS mengajukan permintaan yang berlebihan, seperti meminta Selat Hormuz dibuka penuh dan tidak di bawah kendali Iran, serta meminta Iran menyerahkan uranium yang telah diperkaya.
"Ketegasan Iran pada prinsipnya bahwa penghentian agresi Israel terhadap Lebanon merupakan syarat utama bagi kemajuan negosiasi dengan pihak Amerika, telah membuahkan hasil," demikian dilaporkan Tasnim News Agency, Jumat (17/4/2026).
Media itu memaparkan, sejak negosiasi pekan lalu antara delegasi Iran dan AS di Islamabad mengenai penghentian agresi AS-Israel terhadap Iran, Teheran terus mendorong gencatan senjata di Lebanon sebagai syarat utama bagi kemajuan pembicaraan dan dimulainya putaran kedua negosiasi.
"Hal ini akhirnya memaksa AS dan rezim Israel untuk menyatakan bahwa gencatan senjata akan dimulai Kamis malam. Israel berusaha untuk melanjutkan perang di Lebanon meskipun ada gencatan senjata di Iran, dan Amerika Serikat juga berusaha untuk menghindari masalah ini dengan melanggar komitmen awalnya. Namun, Iran tetap teguh pada pendiriannya dan akhirnya memaksa Presiden AS Donald Trump dan rezim Tel Aviv untuk mematuhi masalah ini. Iran sekali lagi menunjukkan bahwa mereka berpegang teguh pada prinsipnya dan bahwa perlawanan membuahkan hasil," imbuh Tasnim.
Sebelumnya, pada Rabu (15/4/2026), Panglima Angkatan Darat Pakistan, Marsekal Lapangan Asim Munir, mendatangi Teheran untuk menyampaikan pesan dari AS bahwa negara adidaya itu ingin kembali melakukan pembicaraan gencatan senjata.
"Delegasi Munir, yang mencakup perwakilan dari Kementerian Luar Negeri, lembaga keamanan, dan pakar teknis, mendarat di ibu kota Iran pada hari Rabu. Tujuan kunjungan ini adalah untuk menyampaikan pesan AS kepada kepemimpinan Iran dan merencanakan putaran negosiasi selanjutnya," kata Tasnim News Agency, Rabu (15/4/2026).
Atas pesan itu, Iran tidak buru-buru menyetujui dengan mengatakan bahwa tim akan mengkaji terlebih dahulu perundingan yang gagal di Islamabad pada 11 April, karena sejatinya Iran memang tidak mempercayai AS.
Belum diketahui apa yang membuat AS dan Israel akhirnya menyerah pada kehendak Iran, akan tetapi sebagaimana diketahui, setelah negosiasi yang gagal di Islamabad pada 11 April, AS memblokade arus maritim Iran yang juga berarti memblokade Selat Hornuz, akan tetapi sejumlah kapal, termasuk kapal tanker Iran dan China, tetap dapat keluar dari Selat Hormuz dan memasuki perairan sekitarnya, yang menandakan bahwa blokade itu tidak efektif.
Iran sendiri telah mengancam, jika blokade berlanjut, pihaknya akan memblokir ekspor impor dari dan ke Laut Oman, Teluk Persia dan Laut Merah. (man)


