Jakarta, Harian Umum- Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswedan mengatakan, perjuangannya bersama warga Jakarta yang menghantarkan dirinya dan Wagub Sandiaga Uno ke kursi DKI 1 dan 2 melalui Pilkada DKI Jakarta 2017, belum selesai.
"Dunia politik itu berbeda dengan sepakbola. Kalau di sepakbola, setelah piala diserahkan, maka perjuangan (tim yang menjuarai kompetisi) selesai. Kalau di politik sebaliknya; begitu piala diserahkan, maka itu merupakan awal dari perjuangan (pasangan yang memenangkan Pilkada)," katanya saat menghadiri pengajian perdana Majelis Ta'lim Ar Rasyid, majelis ta'lim yang didirikan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), di rumah dinas gubernur DKI Jakarta di kawasan Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (7/3/2018).
Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) itu berterima kasih kepada warga Jakarta, termasuk kepada jamaah Majelis Ta'lim Ar Rasyid yang nota bene merupakan pengurus dan anggota FKDM, karena dirinya telah diberikan amanah untuk memimpin Jakarta hingga lima tahun ke depan.
"Kami itu (dirinya dan Wagub Sandiaga Uno, red) dulu (saat Pilkada) tugasnya cuma pegang mike, dan agar suara kami terdengar, ada tim yang menangani sound system. Nah, tim itu termasuk bapak-bapak dan ibu-ibu yang malam ini hadir di pengajian ini. Maka, setelah mendapatkan piala, kini kami berada di depan untuk bersama-sama dengan bapak- bapak dan ibu-ibu mengubah Jakarta, dan menuntaskan amanah yang diberikan," imbuhnya.
Anies mengaku terharu karena hingga kini kemenangan dirinya dan Sandiaga di Pilkada DKI 2017, agaknya masih membekas di hati warga Jakarta yang mendukung dan memilihnya, sehingga sampai pekan ini pun masih ada saja warga yang menggelar syukuran atas kemenangannya itu.
"Padahal Pilkada Jakarta sudah tahun lalu ya? Tapi terasanya seperti baru kemarin," imbuhnya.
Seperti diketahui, Anies-Sandi memenangkan Pilkada DKI dengan meraih 57,95% suara.
Pasangan ini menjalani pertarungan Pilkada yang dinilai paling brutal dalam sejarah demokrasi Indonesia, karena lawannya dalam pertarungan tersebut, pasangan petahana Ahok-Djarot yang diusung PDIP, Golkar, Hanura, PKB, dan NasDem, tak segan-segan melakukan berbagai cara untuk menang, termasuk dengan melakukan money politic dan bagi-bagi sembako secara terang-terangan menjelang hari pencoblosan, dan mengerahkan BUMD serta PNS.
Ahok-Djarot juga mengerahkan para buzzer dan lembaga survei untuk membentuk opini bahwa pasangan ini merupakan pasangan yang lebih layak untuk dipilih.
Sayang, Ahok terjerat kasus penistaan agama, sehingga ia menjadi musuh bagi umat Muslim yang merasa agamanya telah dinistakan, sehingga suara umat Islam di Jakarta hampir seluruhnya diberikan ke Anies-Sandi. (rhm)







