Jakarta, Harian Umum - Popularitas Donald Trumph selama dua bulan menjabat presiden merosot ke titik terendah yaitu hanya 37 persen. Demikian hasil jajak pendapat yang digelar Gallup akhir pekan lalu.
Banyak presiden mengalami level popularitas terendah, namun dalam 70 tahun terakhir menurut Gallup, inilah pertama kali seorang presiden begitu tak populer di dua bulan pertama masa jabatannya.
Hasil jajak pendapat Gallup ini diperoleh dari wawancara telepon acak terhadap 1.500 warga dewasa AS selama tiga hari dengan margin error sebesar 3 persen.
Saat memasuki Gedung Putih pada Januari lalu, level popularitas Trump hanya 45 persen, tetapi sebulan kemudian angka itu merosot ke 38 persen.
Sejumlah kebijakan kontroversial dianggap menjadi popularitas Trumph menurun. Diantaranya, terkait tuduhan Trump yang menyebut Obama telah memerintahkan penyadapan terhadap dirinya.
Bahkan dalam pekan pertama pemerintahannya, Trump sudah menyerang badan-badan intelijen dan media massa yang dianggapnya "tak jujur" serta menyebarkan "berita bohong".
Juga dalam dua bulan pertama pemerintahannya, Trump menuding para penentangnya mendapat bayaran dari George Soros dan gagal menangani masalah rasialisme dan anti-Semitisme.
Lalu ada kebijakan Trumph lainnya yang memicu sentimen negatif publik Amerika. Salah satunya terkait proyek besar Trump menyingkirkan Obamacare, sebuah undang-undang yang memberikan jaminan kesehatan bagi 20 juta warga miskin AS.
Hubungan internasional AS dalam dua bulan ini juga dipenuhi kontroversi. Mulai dari ketegangannya dengan PM Australia Malcolm Turnbull hingga penundaan kunjungan Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto.
Kontroversi terakhir adalah ketika Trump menolak ajakan jabat tangan dari Kanselir Jerman Angela Merkel di Ruang Oval pada Jumat lalu.







