Jakarta, Harian Umum - Laporan triwulanan terbaru The International Energy Agency (IEA) atau Badan Energi Internasional menunjukkan bahwa penutupan Selat Hormuz oleh Iran berdampak pada hilangnya pasokan LNG (Liquefied Natural Gas) atau Gas Alam Cair global.
Dampaknya, harga komoditi itu di Asia dan Eropa melonjak ke level tertinggi sejak Januari 2023.
"Prospek gas alam global telah berubah secara signifikan akibat perang yang sedang berlangsung di Asia Barat, yang membuat pasokan terganggu dan rusaknya infrastruktur, sehingga memicu volatilitas pasar dan menunda gelombang pasokan LNG baru yang diproyeksikan," kata Al Mayadeen, Jumat (24/4/2026), mengutip laporan IEA tersebut.
Dalam laporannya, IEA menyoroti guncangan pasokan besar yang terkait dengan gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz sejak awal Maret, yang telah menimbulkan ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar global.
"Gangguan tersebut secara efektif menghilangkan hampir 20% pasokan LNG global, mendorong kenaikan harga yang tajam di seluruh wilayah pengimpor utama," katanya.
Selama bulan Maret, harga gas alam di Asia dan Eropa melonjak ke level tertinggi sejak Januari 2023, di tengah volatilitas yang meningkat. Lonjakan harga tersebut berkontribusi pada penurunan permintaan gas di pasar pengimpor LNG utama.
Krisis inj membalikkan periode stabilisasi pasar relatif yang terlihat selama musim dingin 2025–2026, ketika peningkatan produksi LNG, khususnya dari Amerika Utara, telah membantu menurunkan harga. Antara Oktober 2025 hingga Februari 2026, perdagangan LNG global meningkat sebesar 12% secara tahunan, sementara harga acuan di Eropa dan Asia turun sekitar 25%.
Namun, cuaca musim dingin yang ekstrem di Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur menyebabkan lonjakan permintaan sementara, yang menggarisbawahi pentingnya sistem pasokan gas yang fleksibel, terutama seiring dengan perluasan sumber energi terbarukan.
Penurunan Pasokan dan Pelemahan Permintaan di Berbagai Pasar
Kondisi pasar berubah tajam pada bulan Maret karena serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari, membuat Iran menutup Selat Hornuz dan secara efektif menghambat pengiriman LNG.
Produksi LNG global pun tercatat turun 8% secara tahunan, sebagian besar didorong oleh penurunan ekspor dari Qatar dan Uni Emirat Arab, yang hanya sebagian diimbangi oleh peningkatan produksi di tempat lain.
Seiring meluasnya gangguan pasokan, pengiriman LNG semakin menurun, dengan penurunan yang lebih tajam terlihat pada bulan April.
Sebagai respons terhadap harga yang lebih tinggi, cuaca yang lebih ringan, dan langkah-langkah kebijakan, permintaan gas alam melemah di seluruh wilayah pengimpor utama. Permintaan Eropa turun sekitar 4% secara tahunan pada bulan Maret, sebagian besar karena peningkatan pembangkit energi terbarukan, sementara beberapa negara Asia memperkenalkan strategi peralihan bahan bakar dan pengurangan permintaan.
Dampak Jangka Panjang pada Pertumbuhan Pasokan LNG
Selain gangguan langsung, krisis ini diperkirakan akan memengaruhi proyeksi pasokan jangka menengah. Kerusakan infrastruktur LNG di Qatar kemungkinan akan memperlambat pertumbuhan produksi dan menunda ekspansi LNG global yang diantisipasi setidaknya selama dua tahun.
Laporan tersebut memperkirakan bahwa gabungan kerugian pasokan jangka pendek dan pertumbuhan kapasitas yang lebih lambat dapat mengakibatkan pengurangan kumulatif sekitar 120 miliar meter kubik pasokan LNG antara tahun 2026 hingga 2030.
Meskipun proyek-proyek baru di wilayah lain pada akhirnya dapat mengimbangi kerugian ini, dampaknya diperkirakan akan memperpanjang kondisi pasar yang ketat hingga tahun 2026 dan 2027.
IEA menekankan perlunya investasi berkelanjutan di seluruh rantai pasokan LNG dan koordinasi internasional yang lebih erat antara produsen dan konsumen untuk memperkuat keamanan energi global.
IEA juga menyoroti manfaat mempertahankan kontrak pasokan jangka panjang yang terdiversifikasi, yang dapat membantu negara pengimpor mengurangi volatilitas harga selama pasokan masih terganggu akibat konflik di Asia Barat (man).







