Jakarta, Harian Umum - Serangan udara Amerika Serikat (AS) di Pulau Qeshm, Iran, pada Kamis (30/7/2026) dinihari waktu setempat, menghantam sebuah rumah di lingkungan Chah-Tangu, sebuah lingkungan padat penduduk di pulau yang berada di Selat Hormuz.
"Menurut keterangan pejabat Iran dan analisis The New York Times berdasarkan citra satelit dan video dari lokasi kejadian, serangan itu menciptakan 'kawah" selebar sekitar 30 kaki (sekitar 9 meter), sementara puing-puing dan kendaraan yang rusak tersebar hingga lebih dari 200 kaki (sekitar 60 meter) dari lokasi serangan," kata Times of India dikutip Minggu (2/8/2026).
Para ahli senjata yang meninjau citra satelit itu mengonfirmasi bahwa "kawah" dan kerusakan tersebut sesuai dengan daya rusak bom Mark-84 seberat 2.000 pon setara dengan 907,18 kilogram, yang berpotensi dilengkapi dengan kit panduan JDAM, salah satu bom konvensional terbesar dalam persenjataan AS.
Serangan ini menewaskan sepasang suami istri pemilik rumah dan putra mereka yang berusia dua tahun, sementara dua anak lainnya dari keluarga itu berhasil diselamatkan dari reruntuhan dan kini dalam kondisi stabil di rumah sakit.
Seorang sopir taksi juga tewas dalam insiden ini.
Mantan teknisi penjinak bahan peledak Angkatan Darat AS, Trevor Ball, mengatakan bahwa fragmen yang terlihat dalam rekaman media Iran tampaknya merupakan bagian dari sistem panduan tersebut.
Sementara Konsultan amunisi Prancis, Frederic Gras, juga menilai kawah tersebut sesuai dengan bom Mark-84. Dia mengatakan bahwa senjata itu tampaknya meledak di bawah permukaan, dengan medan berpasir menyerap sebagian ledakan dan mengarahkan kekuatannya ke bawah.
Menurut The New York Times (NYT), pihaknya tidak menemukan indikasi adanya fasilitas militer di dekat rumah keluarga yang dibom tersebut, dan juga tidak ada laporan korban jiwa dari pihak militer.
Pejabat Iran mengatakan, serangan itu membuat sekitar 20 kepala rumah tangga yang berada di sekitar titik serangan, mengungsi.
Dari analisis video dan citra satelit juga diketahui bahwa serangan pasukan AS yang lain, akan tetapi dalam satu gelombang serangan yang sama, juga menghancurkan dua gudang di luar Kota Qeshm.
Central Command (CENTCOM) atau Pusat Komando AS dalam sebuah pernyataan mengaku telah melakukan serangan terhadap target di Iran selatan sebagai balasan atas serangan Iran sebelumnya terhadap pangkalan yang digunakan oleh pasukan AS di Yordania.
CENTCOM mengatakan pihaknya mengetahui laporan tentang korban jiwa sipil dan sedang menyelidikinya, tetapi tidak memberikan rincian tentang target yang dituju, senjata yang digunakan, atau tindakan pencegahan yang diambil untuk melindungi warga sipil.
“Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil,” kata juru bicara CENTCOM.
Menurut Times of India, serangan mematikan AS itu menimbulkan pertanyaan tentang apa sebenarnya yang ditargetkan AS dan mengapa bom seberat 2.000 pon digunakan di daerah pemukiman padat penduduk.
Para ahli juga menyampaikan kekhawatiran tentang potensi bahaya bagi warga sipil akibat penggunaan amunisi sebesar itu di lingkungan yang padat penduduk.
Sebuah jam yang terlihat di dalam salah satu rumah yang rusak dalam rekaman yang diposting oleh Mehr News telah berhenti tepat sebelum pukul 03.40 waktu setempat, beberapa menit setelah CENTCOM mengatakan telah memulai serangan terhadap Iran pada malam itu.
Para pejabat Iran mengidentifikasi para korban adalah Qeysar Jafari, istrinya yang bernama Zahra Jafari, putra pasangan itu yang bernama Sina, dan seorang pengemudi taksi.
Sementara kedua putra Jafari yang berhasil diselamatkan bernama Mohammad Reza dan Mehdi. (man)







