Jakarta, Harian Umum - Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan bergerak fluktuatif pada perdagangan awal pekan ini, Selasa (22/4/2024), tetapi berisiko ditutup melemah pada rentang Rp16.210-Rp16.300/dolar AS.
Sama seperti pada perdagangan pekan lalu, pergerakan rupiah hari ini masih akan dipengaruhi oleh dinamika suku bunga The Fed dan memanasnya konflik antara Iran dengan Israel yang membuat banyak kalangan khawatir konflik ini akan melebar hingga keluar wilayah Timur Tengah, dan menjadi pemicu Perang Dunia III.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (19/4/2024), rupiah ditutup terkoreksi hingga 81 poin atau 0,50% ke Rp16.260/dolar AS, meski pada saat yang sama indeks dolar AS melemah 0,09% ke 106,05.
Dilansir Bisnis, Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam risetnya menjelaskan, sentimen terhadap rupiah datang dari beragam data AS yang menunjukkan Federal Reserve kemungkinan akan menunda penurunan suku bunga pertamanya sejak tahun 2020.
Selain itu, memanasnya eskalasi Iran-Israel juga menjadi fokus.
Presiden Fed New York John Williams juga mengatakan tidak ada kebutuhan mendesak untuk menurunkan suku bunga saat ini, mengingat kekuatan perekonomian AS.
Di sisi lain, eskalasi Iran-Israel menjadi fokus setelah laporan ledakan yang terjadi di beberapa wilayah Iran.
Beberapa outlet media AS melaporakan, para pejabat AS mengatakan Israel telah melakukan serangan balik terhadap Iran atas serangan pada 13-14 April lalu. Yang menjadi perhatian khusus adalah ledakan di kota Isfahan, yang terletak di dekat beberapa fasilitas nuklir Iran.
Iran awal pekan lalu telah memperingatkan Israel agar tidak menyerang situs nuklirnya, dan bahkan mungkin mempertimbangkan kembali pembuatan senjata nuklir dalam skenario seperti itu.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) memastikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tetap terjaga, di tengah dampak konflik geopolitik antara Iran-Israel.
BI menegaskan, ekonomi Indonesia termasuk salah satu negara emerging market (EMEs) yang kuat dalam menghadapi dampak rambatan global akibat ketidakpastian penurunan Fed Fund Rate (FFR) dan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Untuk mengantisipasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, BI akan melakukan sejumlah langkah antisipatif di antaranya, yakni menjaga kestabilan rupiah melalui menjaga keseimbangan supply-demand valas di market melalui triple intervention khususnya di spot dan DNDF (Domestic Non Deliverable Forward).
Kemudian, BI akan meningkatkan daya tarik aset rupiah untuk mendorong capital inflow, seperti melalui daya tarik SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) dan hedging cost, serta melakukan koordinasi dan komunikasi dengan stakeholder terkait.
Untuk perdagangan awal pekan hari ini, Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah akan berfluktuasi namun ditutup melemah di rentang Rp16.210-Rp16.300 per dolar AS. (rhm)






