Jakarta, Harian Umum - Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei mengklaim bahwa negaranya memenangkan perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Klaim itu disampaikan dalam pesan yang dirilis pada peringatan 40 hari wafatnya Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyed Ali Khamenei, Kamis (9/4/2026).
"Saudara-saudari di Tanah Air! Hari ini, dan hingga saat ini dalam kisah pertahanan suci ketiga yang dipaksakan, dapat dengan berani saya katakan bahwa kalian, rakyat Iran yang heroik, telah menjadi pemenang mutlak di arena ini,” kata Ayatollah Mojtaba Khamenei dikutip dari Tasnim News Agency, Jumat (10/4/2026).
Mojtaba juga mengatakan bahwa kemenangan Iran atas AS dan Israel membuat Iran muncul sebagai kekuatan besar yang mampu melawan dan mengalahkan himperialisme, dan banyak negara mengakui hal itu
“Ini tidak diragukan lagi merupakan berkah ilahi yang telah diberikan kepada kita melalui darah pemimpin kita yang gugur dan para martir lainnya yang berlumuran darah," katanya.
Meski demikian, Mojtaba mengingatkan rakyatnya bahwa keterlibatan mereka yang berkelanjutan sangat diperlukan untuk mencapai tujuan strategis sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pemimpin yang gugur, seperti yang dilaporkan oleh Press TV.
"Yang diperlukan saat ini untuk mencapai slogan dan tujuan strategis pemimpin yang gugur ini adalah kehadiran terus-menerus rakyat kita tercinta, seperti yang telah mereka lakukan selama 40 hari terakhir. Kehadiran ini merupakan pilar utama dari status yang telah ditegakkan oleh Iran yang kuat saat ini," katanya.
Terkait negara-negara tetangganya yang masih menjadi sekutu AS dan Israel, Mojtaba meminta mereka melihat kemenangan Iran terhadap sekutu-sekutu mereka itu yang disebutnya sebagai sebuah mukjizat. Ia meminta para pemimpin negara-negara itu agar berdiri bersama Iran.
“Kepada tetangga-tetangga kami di selatan, saya katakan: Kalian sedang menyaksikan sebuah mukjizat. Jadi, perhatikanlah dengan saksama dan pahamilah dengan baik, berdirilah di tempat yang tepat, dan waspadalah terhadap janji-janji palsu dari orang-orang jahat. Kami masih menunggu tanggapan yang tepat dari kalian, agar kami dapat menunjukkan persaudaraan dan niat baik kami kepada kalian,” katanya.
Mojtaba tegas mengatakan bahwa Iran pasti akan meminta ganti rugi kepada AS dan Israel atas setiap kerusakan yang mereka buat terhadap Iran, sejak Iran diserang tanggal 28 Februari 2026.
"Kami pasti akan menuntut ganti rugi atas setiap kerusakan yang ditimbulkan, uang darah para martir, dan uang darah untuk para korban luka dalam perang ini. Kami juga pasti akan membawa pengelolaan Selat Hormuz ke tahap baru," katanya.
Lebih jauh, Mojtaba mengingatkan rakyatnya akan bahayanya propaganda dari media-media musuh, dan meminta mereka melakukan antisipasi.
"Sangat penting bagi kita untuk melindungi telinga kita, jendela pikiran dan hati kita, dari media yang berada di bawah kendali musuh atau bersekutu dengan mereka. Media-media ini tidak menginginkan kebaikan bagi negara kita, dan ini telah terbukti berulang kali. Oleh karena itu, kita harus menghindari mereka sama sekali atau mendekati tawaran mereka dengan sangat skeptis,” katanya.
Mojtaba mengatakan, kemartirann Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran sebelumnya akibat serangan AS dan Israel pada tanggal 28 Februari, yaitu Ayatollah Sayyed Ali Khamenei, merupakan salah satu tragedi terbesar yang menimpa Iran, dan merupakan kerugian nasional Iran terberat dalam sejarah modern negara itu.
Ia pun meminta rakyat Iran untuk menjaga semangat balas dendam atas kematian Ali Khamenei itu, dan juga kematian warga Iran yang lain akibat serangan AS dan Iran.
"Meskipun masa berkabung resmi untuk pemimpin yang gugur telah berakhir, tekad yang kuat untuk membalas darah suci para martir kita dari perang kedua dan ketiga yang dipaksakan tetap hidup di dalam hati dan jiwa rakyat, yang akan terus berjuang untuk mewujudkannya," katanya.
Ia mengakui bahwa Iran menghadapi banyak kesulitan, termasuk karena harus menghadapi AS dan Israel, akan tetapi ia menegaskan bahwa perang ini justru berubah menjadi momen kejayaan, dengan rakyat Iran berdiri teguh melawan musuh-musuh bangsa yang "biadab dan bersenjata".
Ia membandingkan perjuangan saat ini dengan ketahanan epik di masa lalu, menarik paralel dengan semangat abadi Ashura dan pengorbanan yang dilakukan oleh para martir Revolusi Islam.
Beliau mencatat bahwa meskipun berduka atas kehilangan pemimpin mereka, rakyat Iran telah mengubah kesedihan mereka menjadi bentuk perlawanan baru, dengan demonstrasi dan gerakan yang menyebar di seluruh negeri. (man)







