Teheran, Harian Umum - Pemimpin Revolusi Iran yang baru, Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei, merilis pesan pertamanya yang ditujukan kepada bangsa Iran.
Dalam pesan itu, ia antara lain bersumpah bahwa Iran tidak akan mengabaikan darah para syuhada, dan akan melakukan pembalasan.
Para syuhada dimaksud bukan hanya Ayatollah Ali Khamenei yang tewas akibat serangan Amerika Serikat dan Israel pada tanggal 28 Februari 2026, akan tetapi semua warga Iran yang tewas akibat serangan kedua negara itu sejak 28 Februari hingga saat pesan disampaikan, Jumat (13/3/2026)
Berikut isi lengkap pesan Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei sebagai dikutip dari Tasnim News Agency:
"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Yang Maha Penyayang. Apa pun tanda yang Kami hapus atau Kami lupakan, Kami akan mendatangkan tanda yang lebih baik atau serupa dengannya," kata Mojtaba di awal pesannya.
Pesan itu terdiri dari lima bagian.
Pada bagian pertama, Mojtaba antara lain mengatakan bahwa menduduki jabatan Pimpinan Tertinggi Revolusi Iran merupakan tugas yang berat.
"Karena posisi ini menyimpan warisan seseorang yang, setelah lebih dari 60 tahun berjuang di jalan Allah dan meninggalkan segala macam kesenangan dan kenyamanan, berubah menjadi permata yang bersinar dan tokoh yang terkemuka, tidak hanya di era sekarang tetapi sepanjang sejarah penguasa negara ini. Baik kehidupan maupun cara kematiannya terkait erat dengan kemuliaan dan martabat yang berasal dari kepercayaan pada kebenaran," katanya.
Pada bagian pertama ini, Mojtaba juga mengingatkan pentingnya warga Iran untuk tetap bersatu, terlebih di masa sulit sepertirsaat ini, dan mempertahankan kehadiran yang efektif dalam menghadapi perang melawan AS dan Israel, juga di bidang sosial, politik, pendidikan, budaya, dan bahkan keamanan.
Yang penting harus digarisbawahi pada bagian pertama ini adalah adanya perintah agar penutupan Selat Hormuz diteruskan dan pentingnya bagi Iran untuk menjaga hubungan dengan para pejuang Front Perlawanan seperti Hizbullah.
"Tidak diragukan lagi, kerja sama antar komponen front ini memperpendek jalan menuju keselamatan dari hasutan Zionis, sebagaimana kita melihat Yaman yang berani dan setia tidak berhenti membela rakyat Gaza yang tertindas, dan Hizbullah yang berdedikasi, meskipun menghadapi berbagai rintangan, datang membantu Republik Islam. Perlawanan Irak juga dengan gagah berani telah menempuh jalan yang sama," kata Mojtaba.
Pada bagian kedua, Mojtaba mengisyaratkan bahwa Iran akan terus berperang melawan AS dan Israel, demi menghormati para syuhada.
"Saya meyakinkan semua orang bahwa kami tidak akan mengabaikan pembalasan atas darah para martir. Pembalasan yang kami maksudkan tidak hanya terkait dengan kemartiran Pemimpin Revolusi yang agung; melainkan, setiap anggota bangsa yang gugur di tangan musuh adalah subjek terpisah dalam berkas pembalasan. Tentu saja, sebagian kecil dari pembalasan ini telah terwujud sejauh ini, tetapi sampai sepenuhnya tercapai, berkas ini akan tetap menjadi prioritas utama, dan kami akan sangat peka terhadap darah anak-anak kami," katanya.
Pada bagian ketiga, Mojtaba memberikan instruksi kepada petugas medis agar memberikan layanan medis untuk warga Iran yang terluka akibat perang; dan pada bagian keempat, Mojtaba menginstruksikan kepada pejabatnya agar memberikan kompensasi kepada warganya yang menjadi korban perang, khususnya bagi yang kehilangan harta benda.
Bagian kelima pesan Mojtaba ditujukan kepada para pemimpin dan tokoh berpengaruh di beberapa negara di kawasan Teluk.
"Kita berbagi perbatasan, baik darat maupun laut, dengan 15 negara dan selalu, dan terus, bersedia untuk memiliki hubungan yang hangat dan konstruktif dengan semuanya. Namun, selama bertahun-tahun, musuh secara bertahap telah membangun pangkalan, baik militer maupun keuangan, di beberapa negara ini untuk mengamankan dominasinya atas kawasan ini. Dalam invasi baru-baru ini, beberapa pangkalan militer digunakan, dan tentu saja, seperti yang telah kami peringatkan secara eksplisit dan tanpa menargetkan negara-negara tersebut, kami hanya menyerang pangkalan-pangkalan itu. Mulai sekarang, kami akan terpaksa melanjutkan tindakan ini, meskipun kami masih percaya akan perlunya persahabatan antara kami dan negara-negara tetangga kami," kata Mojtaba.
"Saya merekomendasikan agar mereka menutup pangkalan-pangkalan itu sesegera mungkin karena mereka pasti sudah mengerti sekarang bahwa klaim Amerika tentang membangun keamanan dan perdamaian hanyalah kebohongan," sambungnya.
Mojtaba meyakini, penutupan pangkalan-pangkalan militer AS itu akan mengarah pada hubungan yang lebih erat antara negara di mana pangkalan itu berada, dengan rakyatnya, karena ia tahu bahwa masyarakat di negara-negara itu umumnya tidak puas atas keberadaan pangkalan-pangkalan tersebut karena hanya akan meningkatkan kekayaan dan kekuasaan negara pemilik pangkalan tersebut (AS).
"Saya ulangi lagi: sistem Republik Islam, tanpa bermaksud untuk membangun dominasi atau kolonialisme di kawasan ini, sepenuhnya siap untuk persatuan dan hubungan yang hangat, tulus, dan saling menguntungkan dengan semua tetangganya," tegas Mojtaba.
Untuk bagian keenam, Mojtaba berikrar kepada para syuhada bahwa Iran akan berjuang dengan segenap jiwa raga untuk mempertahankan kedaulatan negara dari para agresor, dan pada bagian ketujuh Ia berterima kasih kepada semua pihak yang mendukungnya untuk menduduki jabatan Pimpinan Tertinggi Revolusi Iran yang didudukinya saat ini. (rhm)







