Jakarta, Harian Umum - Demo 27 Agustus berubah anarkis setelah massa Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) meninggalkan DPR sekitar pukul 12:30 WIB.
Mereka pergi setelah diterima audiensi oleh pimpinan DPR dan dijanjikan bahwa DPR akan mengesahkan RUU Perampasan Aset pada tanggal 15 Desember 2026.
Pasalnya, setelah AMPB telah pergi, sekelompok orang masih berkumpul di depan gedung DPR, bahkan hingga malam, sehingga sekitar pukul 19:00 WIB, mereka dihalau polisi dengan tembakan gas air mata dan berlarian ke tiga arah, yakni ke arah Slipi, Semanggi, dan memasuki tol dalam kota, sehingga jalan tol itu ditutup sementara.
Polisi tak ada henti-hentinya mengimbau agar mereka meninggalkan lokasi dan pulang, karena sesuai aturan perundang-undangan, demonstrasi hanya diizinkan hingga pukul 18:00.
Mereka yang lari ke arah Slipi, ada yang masuk ke kolong flyover, dan tak lama kemudian salah satu pos polisi (Pospol) yang berfungsi sebagai pemantau arus lalu lintas, terlihat telah hangus karena dibakar.
Tak hanya itu, Pospol tersebut sepertinya juga dirusak sebelum disulut dengan api, karena di sekitar Pospol yang hangus itu terlihat besi, serpihan kaca dan abu tampak berserakan.
Kaca jendela pos itu juga pecah seluruhnya, sementara lis jendela itu nampak bengkok.
Hingga sekitar pukul 22:00 WIB, massa masih memadati flyover Slipi, Jalan Letjen S. Parman, hingga ke Jalan Palmerah Utara.
Seorang warga mengatakan, Pospol tersebut dibakar oleh kerumunan massa pada Kamis sore.
"Ini dibakar tadi sore pas yang demo di DPR masih mahasiswa. Massa kayaknya campuran," kata warga bernama Husin itu.
Ia mengaku tak melihat saat pembakaran terjadi.
"Tahunya api sudah berkobar, karena saya nggak berani mendekat, massanya banyak, beringas," katanya.
Massa yang berkumpul di Jalan S Parman, tepat di depan Halte Transjakarta Slipi Petamburan, terlihat membakar sisa-sisa kardus dan sampah di tengah jalan, sementara massa yang berkumpul di atas flyover menyalakan kembang api yang menimbulkan suara keras ketika dinyalakan.
Setiap kembang api dinyalakan, dan apinya meluncur ke langit, massa riuh bersorak dan bertepuk tangan. Tidak diketahui massa ini dari kelompok mana.
Sukap keras mereka untuk tetap bertahan di lokasi membuat suasana terasa sangat menegangkan. (man)







