Jakarta, Harian Umum- Madu merupakan hasil ekskresi serangga jenis lebah madu (honeybee) setelah hewan dari suku atau familia Apidae (ordo Hymenoptera: serangga bersayap selaput) ini menyerap sari bunga tanaman (floral nectar) atau bagian lain dari tanaman (extra floral nectar).
Hasil ekskresi berupa cairan seperti sirup ini, namun lebih kental dan umumnya memiliki rasa manis, memiliki khasiat yang tak perlu diragukan karena melalui Al Qur'an, Allah SWT pun menyebutkan bahwa madu adalah obat.
Dalam Al qur’an surah an-Nahl ayat 68, Allah SWT berfirman: "Dan Tuhanmu mewahyukan; Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat yang dibuat manusia".
Dalam ayat tersebut jelas sekali Allah memerintahkan lebah untuk berada di dekat tempat-tempat dimana manusia bermukim, karena hewan itu dianugerahi sesuatu yang sangat bermanfaat bagi manusia, yakni madu.
Dalam salah satu hadist, Rasulullah SAW juga menyarankan agar manusia menggunakan madu sebagai obat. Beliau SAW bersabda,”hendaknya kalian mengunakan dua obat yaitu madu dan Al Qur'an”, (sunan ibnu majah, hal 1142, hadist no. 3452, bab madu).
Ibnu Sina, cendekiawan Muslim yang dimasa hidupnya dijuluki sebagai Bapak Kedokteran (890-1037), pada abad ke-10 Masehi pernah meneliti tentang khasiat madu dan mengulasnya dalam sebuah tulisan tentang manfaat madu ditinjau dari segi kesehatan dan dunia kedokteran.
Menurut sejumlah referensi, madu antara lain berkhasiat menyembuhkan penyakit anemia, infeksi saluran pernafasan, paru-paru (TBC), ganguan urat saraf, lambung, diare, dan diabetes.
Dalam surat an- Nahl ayat 69 Allah SWT berfirman:
“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman yang bermacam-macam warnanya, di dalam terdapat obat menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Tuhan bagi yang memikirkan.”
Jenis Lebah Madu
Tak semua masyarakat awam memahami bahwa lebah madu (honeybee) memiliki banyak jenis dan ukuran, sehingga ketika membeli obat berkhasiat tersebut, tak pernah ditanyakan madu tersebut dihasilkan oleh jenis yang mana.
Sebagai pengenalan, berikut jenis-jenis lebah madu yang perlu Anda tahu:
1. Lebah Hutan (Apis Dorsata)
Ini jenis lebah yang belum dapat dibudidayakan, dan masih hidup secara alami di hutan-hutan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan kepulauan Nusa Tenggara.
Hingga kini Apis Dorsata merupakan jenis lebah yang penting bagi perlebahan Indonesia karena produksi madunya cukup tinggi.
2. Lebah Lokal (Apis cerana)
Ini jenis lebah yang umum dibudidayakan oleh masyarakat di pedesaan sebagai kegiatan sampingan. Meskipun produktifitasnya tergolong rendah, namun lebah ini sangat cocok dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan dan gizi masyarakat karena selain mudah diperoleh, harga jual madunya pun relatif rendah.
3. Lebah Kerdil (Apis florea)
Keberadaan lebah ini menjadi perdebatan ilmiah, karena hanya ditemukan spesimennya di museum. Di lapangan/alam terbuka, hingga kini belum ada laporan tentang keberadaannya.
4. Lebah Kerdil/Kecil (Apis andreniformis )
Jenis lebah ini mirip dengan Apis florea. Mereka bersarang tunggal di semak–semak, namun produktivitasnya dalam menghasilkan madu tergolong rendah, sehingga kurang ekonomis jika produksi madunya dikomersilkan.
Penyebaran lebah ini dilaporkan terdapat di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan Nusa Tenggara.
5. Lebah Merah (Apis koschevnikovi)
Jenis lebah ini sedikit lebih besar dari Apis cerana dengan warna bulu kemerahan. namun hingga kini belum diusahakan secara komersial. Penyebaran lebah ini terdapat di Kalimantan dan Sumatera.
6. Lebah Gunung (Apis nuluensis)
Keberadaan jenis lebah ini di Indonesia juga masih menjadi perdebatan, karena sejauh ini keberadaanya dilaporkan berada di dataran tinggi Serawak, Malaysia, namun diduga ada juga di Kalimantan.
Ukuran lebah ini hampir sama dengan Apis cerana.
7. Lebah Lokal Sulawesi (Apis nigrocincta)
Jenis lebah ini mirip Apis cerana dan hanya terdapat di Sulawesi. Warna tubuhnya lebih kuning.
8. Lebah Tanpa Sengat (Trigona spp)
Lebah ini merupakan lebah asli Asia dari genus trigona yang memiliki karakteristik spesifik, yaitu madu yang dihasilkan mempunyai rasa asam, namun tahan terhadap fermentasi.
Koloni lebah ini diketahui jarang sekali berpindah-pindah, dan harga produk madunya lebih tinggi dibandingkan madu yang dihasilkan lebah dari genus Apis.
Di sejumlah daerah, jenis lebah ini memiliki nama yang berbeda. Di Jawa Barat misalnya, dia disebut Lebah Teuweul; di Sumatera disebut Lebah Galo-galo; di Jawa Tengah dan Timur disebut Lebah Malam Klanceng atau Lonceng; dan di Kalimantan disebut Lebah Kelulut.
Lebah klanceng atau Trigona spp merupakan jenis lebah madu yang paling banyak dipelihara secara tradisional oleh masyarakat pedesaan yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Lebah ini tidak memiliki sengat, tidak ganas, dan berfungsi sebagai penyerbuk bunga-bunga kecil.
Karena tidak memiliki sengat, dalam bahasa Inggris jenis lebah ini disebut Stingless Bee.
Lebah Trigona spp berwarna hitam dengan panjang tubuh 3–4 milimeter, dan rentang sayap hanya 8 milimeter.
Lebah pekerja dari jenis ini berwarna hitam dengan kepala besar dan rahang tajam, sementara lebah ratunya berwarna kecoklatan, berperut besar, berukuran 3–4 kali lebih besar dari lebah pekerja, sehingga sekilas sangat mirip dengan laron, namun bersayap pendek.
Trigona spp termasuk salah satu serangga sosial yang hidup dengan membentuk koloni di bawah pengaturan ratu.
Secara alami, serangga jenis ini membuat sarang di lubang-lubang pohon, celah-celah dinding dan lubang bambu di dalam rumah yang agak gelap.
Untuk keamanan, tempat keluar masuk berbentuk lubang kecil sepanjang 1 semtimeter yang diselimuti zat perekat.
Sarangnya tersusun atas beberapa bagian untuk menyimpan madu, tepung sari, tempat bertelur dan tempat larva. Di bagian tengah terdapat karangan bola berisi telur, tempayak dan kepompong. Di bagian sudut ada bola-bola kehitaman sebagai penyimpan madu dan tepung sari.
Umumnya Lebah 'Klanceng' Trigona spp dipelihara secara tradisional dengan gelodok yang pembuatannya meniru rumah-rumah lebah yang biasa ditemukan di ronga-ronga batang pohon besar atau gua yang terlindung dari terik matahari dan hujan. Rumah tiruan dibuat dari batang kelapa (pucuk), kayu randu (kapuk), kayu pucung atau batang pohon lain yang berkayu lunak.
Lebah ini menghasilkan madu dan lilin yang diproduksi sangat sedikit, rasanya asam dan sering dipakai untuk obat sariawan. Sedangkan lilinnya dipakai untuk membatik.
Madu klanceng merupakan madu yang paling istimewa di antara banyak madu lainnya, karena selain khasiatnya yang melebihi madu yang dihasilkan jenis lebah yang lain, pembudidayaannya pun masih sulit, karena harus terlebih dahulu dicari di tengah hutan belantara. Tak heran jika harga madu klanceng beberapa kali lipat dari harga madu yang lain.
Madu klanceng tersusun dari beberapa molekul gula, mineral, vitamin, protein dan asam amino. Dalam kehidupan sehari-hari, madu ini dijadikan sebagai obat tradisional karena dapat menurunkan tekanan darah tinggi, diabetes, antikanker, mencerdaskan daya pikir dan lain sebagainya. Dengan rutin minum madu klanceng, badan sehat dan awet muda.
Madu Klanceng mengandung propolis dan bee pollen secara alami, karena sarang madu dan kantong bee pollen menyatu di satu tempat.
Dalam Propolis terkandung Resin yang didalamnya terdapat senyawa flavonoid, asam, dan ester fenol (45 – 55%); Lilin lebah dan plant origin (25 – 35 %); serta Minyak volatil (10%).
Pada Pollen terdapat protein (16 asam amino bebas > 1%), arginine danproline berjumlah 46% dari total(5%); 14 mineral mikro (Fe dan Zn yang terbanyak), keton, lacton, quinon,steroid, asam benzoat, vitamin, karbohidrat (5%).
Madu Klanceng juga mengandung vitamin yang terdiri dari Thiamin (B1), Riboflavin (B2), (B3), Asam Askorbat (C), (B5), Piridoksin (B6), Niasin, Asam Pantotenat, Biotin, Asamfolat dan vitamin K
Sementara kandungan mineralnya terdiri dari Natirum (Na), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Alumunium (A1), Besi (Fe), Fosfor dan Kalium (K), Pottassium, Sodium Klorin, Sulfur.
Enzim-enzim Utama yang terkandung dalam Madu Klanceng adalah Diatase, invertasem glukosa oksidase, fruktosa, peroksidase, lipase juga mengandung sejumlah kecil hormon, tembaga, iodium dan zinc.
Dengan kandungan vitamin, mineral dan enzim-enzim tersebut, tidak heran jika Madu Klanceng (Madu trigona) dipercaya dapat mengatasi beragam penyakit dan dapat pula meningkatkan daya kekebalan tubuh.
Produsen Madu Klanceng
Pengusaha kecil yang saat ini menggeluti produksi Madu Klanceng adalah Amrullah Mansyur dan rekannya, Rito Sahwidi.
"Saya dan Pak Rito sampai sekarang masih bekerja di sebuah percetakan. Semula kami memutuskan untuk menggeluti usaha ini untuk persiapan pensiun, tapi karena kami melihat prospeknya bagus, kami malah mulai berfikir untuk lebih fokus dan keluar dari pekerjaan," kata Amrullah kepada harianumum.com di kediamannya di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, Minggu (8/4/2018).
Pria 43 tahun dan berdarah Singapura ini mengakui, tak mudah membudidayakan lebah Trigona Spp, karena selain masa panen madu lebah ini hanya empat kali dalam setahun, juga pelaksanaan panen tidak boleh terlambat.
"Kalau sudah saatnya panen kita biarkan hingga tiga hari, madu itu akan habis dimakan oleh lebah-lebahnya sendiri," jelas dia.
Peternakan lebah Trigona Spp Amrullah dan Rito berada di kawasan Menes, Pandeglang, Banten, sementara proses produksi sejak panen hingga pengemasan, masih dilakukan secara manual karena produksi lebah masih belum terlalu banyak.
"Setiap kali panen, hasilnya sekitar 50 botol madu ukuran 100 ml dan 500 ml," katanya.
Diakui, peminat Madu Klanceng lumayan banyak. Sejak ia menggeluti profesi ini dan memasarkannya secara online, pesanan tak pernah berhenti meski harga jual per botol lumayan tinggi.
"Untuk yang 100 ml kita jual Rp100 ribu/botol, sedang yang 500 ml Rp300 ribu/botol," katanya.
Geliat penjualan Madu Klenceng ternyata juga telah menarik perhatian seorang ilmuwan Australia penulis buku "The Australian Native Bee Book"; Tim Heard.
Belum lama ini ilmuwan itu mendatangi Amrullah dan Rito dalam rangka riset untuk pembuatan buku selanjutnya yang akan juga menyinggung soal Madu Klanceng.
"Ilmuwan itu kami ajak ke peternakan, dan dia mendapatkan data sangat banyak dari kami tentang madu Klenceng," imbuh Amrullah
Dari brosur yang disebar pelaku UKM ini diketahui kalau Madu Klanceng juga disebut Mother of Medicine karena khasiatnya yang luar biasa.
Pasalnya, madu ini juga dapat menyembuhkan penyekit degeneratf seperti kanker dan tumor.
"Diminum rutin dua kali sehari selama 7-8 bulan, Insya Allah sembuh," tutup Amrullah. (rhm)







