Jakarta, Harian Umum - Presiden terpilih Prabowo Subianto mengatakan, perkembangan kondisi ekonomi Indonesia masih positif, ditandai dengan laju inflasi serta pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang terjaga.
Ia bahkan mengatakan, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara-negara lain di tengah kondisi global yang menantang.
"Kita sering kurang bersyukur, kurang terima kasih, kurang menghargai apa yang kita capai sendiri," kata Prabowo dalam BNI Investor Daily Summit 2024, di Jakarta, Rabu (9/10/2024).
Menurut Menteri Pertahanan ini, kondisi ekonomi global yang menantang sejak pandemi Covid-19 telah membuat utang banyak negara membengkak dan rasio utang terhadap PDB melonjak. Ia mencontohkan Perancis, dengan rasio utang terhadap PDB yang disebut telah mencapai 110 persen.
"Enggak tahu kapan mereka akan bayar utang itu?" tanyanya.
Prabowo menjelaskan, kondisi global yang diwarnai oleh meningkatnya tensi geopolitik menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian nasional.
Maka, katanya, perlu kehati-hatian dari berbagai pihak dalam mengambil setiap keputusan agar dapat tetap menjaga kedamaian di suatu negara ataupun antarnegara.
"Untuk itu, dibutuhkan semangat kebersamaan. Untuk itu, perlu semangat kolaborasi," tegas ketua umum.Partai Gerindra itu..
Data teranyar menunjukkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,05 persen pada kuartal II-2024, pertumbuhan ekonomi paling tinggi kedua di antara negara G20 pada periode yang sama.
Seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang stabil di kisaran 5 persen, PDB Indonesia telah mencapai 1,48 triliun dollar AS. Hal itu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan perekonomian terbesar ke-16 di dunia.
Meski demikian, per akhir Agustus 2024 utang pemerintah mencapai Rp 8.461,93 triliun, turun sedikit dibanding utang pada Juli 2024 yang sebesar Rp 8.502,69 triliun.
Darij umlah itu, utang yang jatuh tempo pada 2024 menurut Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan sebesar Rp 434,29 triliun, terdiri dari yang dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 371,8 triliun, dan pinjaman Rp 62,49 triliun.
Pada tahun 2025 utang yang jatuh tempo mencapai Rp 800,33 triliun, yang terdiri dari SBN Rp 705,5 triliun dan pinjaman Rp 94,83 triliun.
Pada 2026, utang yang jatuh tempo sebesar Rp 803,19 triliun, terbagi menjadi SBN Rp 703 triliun dan pinjaman Rp 100,19 triliun.
Dan pada tahun 2027, utang jatuh tempo sebesar Rp 802,61 triliun, terdiri dari SBN Rp 695,5 triliun dan pinjaman Rp 107,11 triliun. (rhm)


