Jakarta, Harian Umum - Massa pendukung Paslon 01 pada Pilpres 2024, yakni Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar (AMIN) bentrok dengan massa pendukung 02 di Patung Kuda, Jakarta Pusat, Rabu (27/3/2024).
Bentrok itu terjadi di tengah sidang Sengketa Pilpres 2024 yang diselenggarakan Mahkamah Konstitusi (MK) yang gedungnya hanya berjarak beberapa ratus meter dari Patung Kuda.
Demo berawal ketika ratusan massa pendukung 01 yang tergabung dalam Front Penegak Daulat Rakyat (PDR) dan elemen-elemen masyarakat seperti Pimpinan Nasional Konfederasi Ketum Seluruh Indonesia, Barisan Rakyat Bersatu, UI Watch dan Pejabat (Pengacara dan Jawara Bela Umat), menggelar aksi di Patung Kuda, tepatnya di Jalan Medan Merdeka Barat arah Harmoni yang sejak jembatan penyeberangan orang (JPO) di depan Gedung Indosat, ditutup polisi dengan barier beton dan kawat berduri.
Awalnya, massa ingin menggelar aksi di depan gedung MK, tapi karena Jalan Medan Merdeka Barat ditutup, mereka terpaksa menggelar aksi di Patung Kuda.
Satu demi satu tokoh pendukung AMIN, seperti Yusuf Blegur, Ida Nurhaida, Marwan Batubara, juga pendukung AMIN yang jauh-jauh datang dari Sumatera Utara (seorang ibu-ibu) dan seorang pria dari Banten, berorasi bergantian.
Setelah satu jam lebih massa 01 yang berjumlah ratusan orang menggelar aksi, datang belasan massa pendukung 02, tetapi oleh polisi mereka di arahkan berunjuk rasa di depan Monas, alias berada di seberang jalan dari di mana massa 01 berunjuk rasa, dengan penjagaan ketat polisi
Awalnya tak ada masalah, karena kedua kubu berada di tempat yang terpisah, tetapi saat korban kekerasan aparat saat massa pendukung 01 dan 03 Ganjar Mahfud berunjuk rasa di DPR, yakni Rena, berorasi, mendadak terjadi kegaduhan dari arah tempat pendukung 02 berunjuk rasa.
"Mereka melempari kita dengan air mineral," jelas Ketum Pejabat, Ustaz Eka Jaya.
Provokasi massa pendukung 02 itu membuat massa 01 marah dan menyerbu massa 02. Tak hanya massa laki-laki yang menyerbu, tapi juga emak-emak.
Terjadi kericuhan. Massa 01 merangsek polisi yang membuat pagar betis di depan mobil komando massa 02, sementara massa 02 pun berusaha menjebol pagar betis polisi itu untuk menyerbu massa 01.
Polisi dapat mencegah terjadinya adu fisik, tetapi sempat terjadi lemparan-lemparan air mineral dan batu bertubi-tubi dari kedua kubu. Massa 02 bahkan melepas bambu yang mereka gunakan untuk menopang poster-poster yang mereka bawa, dan beberapa di antaranya dilemparkan ke arah massa 01, sehingga massa 01 semakin marah.
Beberapa massa 01 mengambil bambu yang dilemparkan massa 02, dan dilemparkan ke massa 01. Mereka juga mengambil batu dan dilemparkan ke massa 01.
Polisi meminta massa 01 berhenti dan mundur, polisi juga merampas bambu-bambu dari tangan pendukung 02 yang akan digunakan untuk menggebuk massa 01.
Yang mengejutkan, di antara massa 01 ada yang terlihat membawa besi cukup panjang dengan ujung bengkok, tetapi tak sempat digunakan karena polisi mendorong orang yang membawanya agar kembali ke.kelompolmya di belakang mobil komando
Hampir 30 menit suasana panas itu berlangsung, sebelum akhirnya polisi dapat membujuk massa 02 agar kembali ke lokasi di mana mereka berunjuk rasa, sementara massa 02 yang semuanya anak muda dan sepertinya bukan mahasiswa, juga bisa ditahan untuk tidak terus membuat provokasi.
Eka menyesalkan insiden ini, karena setiap kali pihak ya, juga pihak 03 melakukan aksi, baik di DPR, Bawaslu, KPU dan Patung Kuda massa 02 selalu hadir untuk membuat aksi tandingan.
"Ini polisi seperti sengaja membenturkan kami dengan mereka, karena polisi mengizinkan mereka berunjuk rasa di waktu dan tempat yang sama dengan kami. Seharusnya polisi mengatur mereka melakukan aksi di tempat yang lain kalau waktunya sama, atau diatur agar melakukan aksi di hari yang lain," katanya.
Eka menegaskan, pihaknya tidak takut menghadapi massa 02.
"Mereka itu massa bayaran, kami tidak takut," pungkasnya. (rhm)


