Jakarta, Harian Umum - Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies) Anthony Budiawan menilai, pernyataan mantan Menteri Keungan Bambang Brodjonegoro sungguh menyedihkan dan tak masuk akal.
Pasalnya, ekonom senior itu mengatakan bahwa konsumsi air galon atau air kemasan menjadi salah satu faktor kelas menengah jatuh miskin.
"Pernyataan dan pendapat mantan Menteri Keuangan di Rezim Jokowi ini sungguh menyedihkan, tidak masuk akal sama sekali, absurd," kata Anthony melalui siaran tertulis, Sabtu (31/8/2024).
Ekonom ini menilai, pernyataan Bambang itu jelas sebagai upaya mencari kambing hitam atas ketidakmampuan dan kegagalan pemerintahan Jokowi dalam meningkatkan kesejahteraan dan mengurangi tingkat kemiskinan.
Alih-alih memberikan pernyataan sesuai kapasitas keilmuannya, Bambang justru menyalahkan masyarakat yang punya kebiasaan memgonsumsi air kemasan.
'Bambang berkilah, konsumsi air kemasan tidak terjadi di semua negara, karena masyarakat kelas menengah di negara maju terbiasa konsumsi air minum (dari kran) yang disediakan pemerintah di tempat-tempat umum. Pernyataan Bambang justru mengungkap fakta dan sekaligus validasi, bahwa pemerintahan Jokowi selain telah gagal dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat menengah bawah, tetapi juga telah gagal dalam penyediaan air siap minum di tempat-tempat umum," tegas Anthony.
Sebab, lanjut Anthony, masyarakat hanya bisa mengonsumsi air siap minum dari keran-keran di tempat umum kalau pemerintah mampu menyediakan fasilitas tersebut, tapi faktanya pemerintah tidak mampu menyediakan fasilitas air siap minum di tempat-tempat umum, sehingga masyarakat tidak bisa mengonsumsinya.
"Artinya, masyarakat mengonsumsi air kemasan karena tidak ada pilihan lain, karena pemerintah telah gagal menyediakan air siap minum yang aman di tempat-tempat umu," pungkas Anthony.
Seperti diketahui, BPS mengungkap kalau pada rentang tahun 2019-2024 jumlah warga kelas menengah di Indonesia turun hingga 9,48 juta dari 57,33 juta orang pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024.
Menanggapi hal itu, Bambang Brodjonegoro mengatakan, turunnya tingkat ekonomi kelas menengah di Indonesia tidak hanya terjadi karena pandemi Covid-19 dan banyaknya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Dia mengatakan, tekanan ekonomi warga kelas menengah juga muncul akibat kebiasaan sehari-hari seperti kebutuhan terhadap air kemasan, seperti galon.
"Selama ini secara tidak sadar itu sudah menggerus income kita secara lumayan dengan style kita yang mengandalkan semua kepada air galon, air botol dan segala macamnya," kata Bambang di kantor Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dikutip Jumat, (30/8/2024), seperti dilansir CNBC Indonesia. (rhm)


