Jakarta, Harian Umum- Poros Gerindra, PKS dan PAN disarankan untuk memilih tokoh alternatif jika tarik menarik kepentingan untuk mengisi posisi calon wakil presiden (Cawapres) pendamping Prabowo Subianto di Pilpres 2019, menemui jalan buntu.
"Calon alternatif itu dapat menjadi solusi agar koalisi tidak pecah dan tercipta win win solution," ujar Ketua Masyarakat Pemantau Kebijakan Eksekutif dan Legislatif (Majelis), Sugiyanto, kepada harianumum.com via telepon, Minggu (29/4/2108).
Seperti diketahui, Partai Gerindra telah memastikan diri akan mengusung ketua umumnya, Prabowo Subianto, sebagai capres 2019, dan langkah Gerindra tersebut telah direstui PKS sebagai mitra koalisi.
PAN yang semula memberi isyarat akan berkoalisi dengan PDIP dan Golkar untuk mengusung Presiden Jokowi, belakangan ini juga terkesan mendukung Prabowo dan memperlihatkan gelagat untuk bergabung dengan Gerindra dan PKS.
Jika isyarat ini menjadi kenyataan, maka koalisi PAN, Gerindra dan PKS di Pilkada DKI 2017, terulang.
Koalisi tiga partai ini juga terjalin di lima Pilkada Serentak 2018 di Tanah Air. Di antaranya di Pilkada Jawa Barat, Kalimantan Timur dan Maluku Utara.
Meski demikian, siapa yang akan mendampingi Prabowo sebagai Cawapres, masih manjadi polemik karena PKS sendiri telah mengodorkan sembilan nama, di antaranya Gubernur Jabar Ahmad Heryawan dan Presiden PKS Sohibul Iman; dan PAN yang mengusulkan Zulkifli Hasan.
Di sisi lain, Gerindra sendiri membidik Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo.
Sugiyanto menilai, dalam sebuah koalisi, sangat wajar jika semua pihak ingin kepentingannya diakomodir. Begitu juga PKS dan PAN, dan tak ada salahnya pula jika Prabowo menginginkan Cawapres yang tidak diusulkan kedua partai mitra koalisinya itu.
"Tapi memang, kalau masing-masing pihak ngotot ingin agar "jagoannya" dijadikan Cawapres, ini riskan karena koalisi bisa pecah," katanya.
Maka, tegas aktivis yang akrab disapa SGY ini, ia menyarankan agar ketiga partai itu memilih figur alternatif yang dapat diterima oleh ketiganya, dan menurutnya, figur yang cocok adalah Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra dan pendiri yang juga Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais.
"Kenapa Yusril? Karena dia adalah tokoh yang berpengalaman, berwawasan luas, dan merupakan salah satu tokoh yang dekat dengan umat Islam. Meski saat ini partainya masih merupakan partai non Parlemen, namun saya yain setelah mendapat suara di 2019, PBB akan berkoalisi dengan PKS, Gerindra dan PAN," katanya.
Sedang soal sosok Amien Rais, SGY mengatakan cocok untuk mendampingi Prabowo karena Amien tak hanya seorang politisi senior, namun juga merupakan tokoh reformasi, seorang negarawan da seorang nasionalis seperti halnya Prabowo.
"Kalau mereka berpasangan menjadi presiden dan wakil presiden, keduanya dapat bekerja sama, bahu membahu untuk memperbaiki kondisi bangsa dan negara ini, dan membuatnya maju," tegas dia.
Sebelumnya, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera mengatakan, saat ini siapa Cawapres Prabowo tengah difinalisasi oleh partainya dan Gerindra.
"Nanti saatnya akan diumumkan, rencananya sekalian dengan kabinetnya," kata dia dalam diskusi di Cikini, Jakarta Pusat.
Tantangan PDIP
Sementara itu, seperti dilansir sebuah media nasional, anggota Fraksi PDIP DPR RI Darmadi Durianto menantang Amien Rais untuk berduet dengan Prabowo di Pilpres 2019. Politisi ini berang karena Amien tak henti-hentinya mengeritik pemerintahan Jokowi, dan bahkan mengatakan kalau Jokowi akan keok di 2019.
"Lebih baik Amien Rais berpasangan dengan Prabowo melawan Jokowi di Pilpres 2019, untuk membuktikan statemen Pak Amien itu. Jadi, nanti rakyat menilai apakah yang diomong Pak Amien benar atau tidak. Hasil Pilpres 2019 akan menjadi bukti apakah rakyat menghendaki mengganti presiden atau tidak," katanya.
Dia mengakui, kritik dalam era demokrasi dari oposisi terhadap pemerintah adalah sesuatu yang lumrah, namun sebagai tokoh perjuangan, Amien juga harus turun langsung ke gelanggang politik dengan maju sebagai Cawapres.
"Kita berharap Pak Amien jangan hanya sebagai komentator, tapi turun ke gelanggang untuk bertanding, Apa Pak Amien Rais mau?" tantangnya. (rhm)




