Jakarta, Harian Umum- Jumlah korban tewas, luka dan hilang akibat tsunami yang menghantam kawasan pesisir Kabupaten Pandeglang dan Serang, Provinsi Banten, serta pesisir Lampung Selatan, membengkak drastis hingga Minggu (23/12/2018) pukul 13:00 WIB.
"Hingga siang ini jumlah korban meninggal dunia sebanyak 168 orang, korban luka sebanyak 745 orang dan yang hilang 30 orang," jelas Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu (23/12/2018).
Dari jumlah itu, korban terbanyak berada di Pandeglang, karena wilayah ini merupakan wilayah terdampak paling parah saat tsunami menerjang pada Sabtu (22/12/2018) pukul 21:27 WIB.
BNPB mencatat, di wilayah ini ada 11 kecamatan yang diterjang tsunami, di antaranya Kecamatan Carita, Panimbang, Sumur, Labuan, Cigeulis, Menes, Cimanggu dan Pagelaran.
Di kabupaten ini, jumlah korban tewas 126 orang, korban luka 624 orang, dan yang hilang 4 orang.
Di kabupaten ini 446 unit rumah rusak, sembilan hotel rusak berat, 350 unit perahu rusak berat, 60 warung kuliner (retoran/rumah makan) rusak, dan 24 mobil serta 49 motor juga rusak.
"Titik terparah yang menjadi korban tsunamj adalah Hotel Mutiara Carita, Hotel Tanjung Lesung dan Kampung Sambolo (Desa Sukarame, Kecamatan Carita)," imbuh Sutopo.
Di Kabupaten Serang, jumlah korban tewas 9 orang, korban luka 6 orang dan yang hilang 26 orang.
"Jumlah kerusakan bangunan dan fasilitas umum, masih didata," imbuh Sutopo lagi.
Di Lampung Selatan, korban tewas sebanyak 33 orang, dan korban luka 115 orang.
Ada empat kecamatan di kabupaten ini yang wilayah pesisirnya diterjang tsunami, yakni Kecamatan Kalianda, Rajabasa, Katibum dan Sidomulyo.
Sutopo menegaskan, jumlah korban tewas, luka dan hilang masih akan terus bertambah karena hingga saat ini Tim Gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, BPBD Banten, Tagana dan pihak terkait lainnya, masih terus melakukan evakuasi.
Ia mengakui, saat ini ada lokasi bencana yang masih sulit dijangkau karena jalan-jalan di kawasan Pandeglang dan Serang terputus akibat terjangan tsunami.
Jalan yang putus tersebut adalah Jalan Raya Serang-Pandeglang, Jalan Raya Tanjung Lesung dan jalan raya di depan Hotel Retro 2, Anyer. Jalanan putus karena ditimpa pepohonan yang tumbang dan material yang dibawa gelombang tsunami yang berupa bebatuan, batang pohon, lumpur dan lain-lain. (rhm)







