Jakarta, Harian Umum - Dalam ceritanya, ustadzah Halimah Alaydrus menuturkan kisah nyata seseorang yang mengakui kebaikan Allah dan memujiNya walau sedang mendapat musibah.
Orang itu mengalami kecelakaan di bis yang ditumpanginya. Tangannya berdarah karena besi di pintu yang menghujam. Tubuhnya terguling-guling di lantai bis. Namun dia tetap tersenyum. Saat ditanya, dia hanya bilang kalau Allah itu banget banget.
Ketika ditanya lebih jauh dia menjawab dengan hadits nabi yang menyebutkan jika Allah sedang sayang pada hambaNya maka Ia akan menguji hamba tersebut dengan musibah.
Allah adalah Ar-Rabb. Bisa diartikan sebagai pemelihara seluruh makhlukNya. Bentuk pemeliharaan tersebut mencakup menciptakan, menyediakan segala sarana kehidupan, dan memberi nikmat tiada tara. Dengan begitu, Ya Rabb dapat diartikan sebagai dengan hal tersebut.
Salah satu asma Dia yang menggambarkan kebaikanNya adalah Al Karim. Bisa diartikan Maha Pemurah yang maknanya memberi tanpa diminta.
Al Karim juga mengandung makna bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala maha memberi tanpa perhitungan. Ada lagi asma yang lain, yakni Al-Barr. Artinya Allah adalah Zat yang Maha Baik.
“Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah Al-Barr yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang” (QS. At-Thur: 28).
Maknanya adalah yang mencakup kepada seluruh makhluk dalam kebaikan, anugerah, dan pemberian-Nya. Allah Ta’ala yang memberi nikmat, Mahaluas pemberiannya, yang terus menerus memberi kebaikan, dan senantiasa tidak terputus kebaikan serta anugerah yang diberikan. Kebaikan dan kasih sayang yang diberikan tanpa batas. Dialah Allah Ta’ala yang memiliki kasih sayang yang luas dan tiada henti. Inilah cakupan makna sifat kebaikan yang terkandung dalam nama Allah Al Barr.
Kebaikan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya antara lain kebaikan yang sifatnya umum yang mencakup seluruh makhluk Allah Ta’ala. Tidak ada satu pun makhluk yang tidak mendapat nikmat dan kebaikan dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” (QS. Al-Isra’: 70).
Kemudian, kebaikan yang sifatnya khusus adalah kebaikan berupa hidayah kepada manusia yang Allah Ta’ala kehendaki. Kebaikan tersebut membuat seorang manusia berada di atas jalan Islam yang lurus, mendapatkan taufik untuk taat kepada Allah Ta’ala, dan akan mendapatkan kebahagiaan dunia serta akhirat. Ini sebagaimana janji Allah Ta’ala dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbuat kebaikan benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan” (QS. Al-Infithar: 13).
Kenikmatan di sini maksudnya kenikmatan dalam tiga kondisi, baik di dunia, alam barzakh, maupun ketika hari kiamat nanti. Kebaikan yang Allah Ta’ala berikan kepada hamba tidak terbatas dan tidak terhitung jumlahnya.(RR)
Hadits Qudsi Hari Ini
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia mengatakan, Rasulullah bersabda, Allah berkata:
"Aku tergantung persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan, Aku bersamanya ketika dia mengingat Aku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku di suatu golongan, maka Aku mengingatnya pada golongan yang lebih baik lagi. Apabila dia mendekat kepadaku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Apabila dia mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya satu depa. Apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.”







